22 Juli 2022, hari jumat, kami pergi ke osmancık, berjarak 1 jam 27 menit menurut google maps, sekitar 78.3 km jarak antara iskilip ke osmancik, jadi kalau di ibaratkan mirip sebuah provinsi di İndonesia, dua kota ini ibarat tetangga kabupaten, masih satu provinsi Çorum, tidak terlalu jauh juga memang ‘seandai’nya jalanan lurus bebas hambatan, tapi ternyata, jalan menuju osmancık dari iskilip cukup membuat kami KAPOK, kenapa?
Berasa naik halilintar (Roller coaster)
Selepas sarapan sekitar pukul 9 pagi, kami meninggalkan lojman menuju osmancık, lewat jalan oğuzlar, jika menuju pusat provinsi Corum, cukup lurus saja dari arah iskilip, untuk menuju osmancik kami belok kiri menuju jalan oguzlar, melewati pedesaan di daerah gunung. pemandangan sepanjang jalan memang indah, ditambah cuaca musim panas,, aktifitas penduduk desa sering kami lihat sepanjang jalan, mulai dari petani yang sedang panen di ladang gandum, atau pengembala kambing dipinggir jalan, ada bendungan oguzlar yang menjadi daya tarik, disekitar bendungan dibangun restoran, taman bermain dan area piknik, bisa juga naik perahu untuk keliling bendungan oguzlar. Tapi tujuan kami bukan ke bendungan lagi untuk berpiknik, jadi hanya lewati saja dan terus menuju arah osmancik. Dan jalanan menuju osmancik, luar biasa-.-, jalanann kecil dan berkelok-kelok, cukup membuat pusing dan panas dingin ketika tiap belokan disisi kanan adalah jurang-.-‘ sepanjang jalan terus ber dzikir dan keringat dingin ditambah perut mual, kepala pusing, untuk saya yang jarang mabuk naik kendaraan, perjalanan menuju osmancik cukup membuat pusing. Dari google maps, karena bertetangga kabupaten, ya terlihat dekat, tapi ternyata harus melewati pegunungan, ahh jangan percaya google! Begitu turun di dataran rendah, udah ngeluh aja sama suami: ”yeter”! nanti pulangnya muter aja lewat Çorum, ogah lewat jalan yang sama. Karena saya beneran pusing, suami berhenti dipinggir jalan dan kebetulan area persawahan.
Tipe sawah di Osmancık

Apakah ada tanaman yang mirip dengan sawah di İndonesia: Genjer? ternyata setelah saya telusuri area persawahannya tidak ada genjer sama sekali, atau tutut? itu juga tidak ada, bau lumpur sawahnya sama saja. Karena Osmancik berada dipinggiran sungai kizılırmak , sungai terbesar dan terpanjang di Turki, sistem pengairan sawah di osmancik cukup memadai.
Pertanian di Turki, umumnya sudah cukup modern, semua menggunakan alat, untuk panen maupun menanam padi, mengandalkan traktor dan alat sejenisnya (saya ga tahu namanya) tapi pernah melihat waktu petani akan menanam benih padi.
Osmancik menyumbang 25-30 ton beras untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri 5 %, sisanya Turki mengandalkan impor dari negara lain terutama cina dan thailand. Mata pencaharian terbesar warga osmancik sebagai petani padi.
Lokasi Osmancık di Turki
Kota kecil yang kami datangi adalah sentra padi di Turki, dijuluki juga ‘beyaz altın /emas putih‘ karena sebagai kota penghasil beras beras lokal berkualitas di Turki, Lokasi Osmancik berada di provinsi Corum area laut hitam, Osmancık salah satu distrik dari provinsi ini. Berjarak 565.6 km dari İstanbul, butuh 6 jam 15 menit, perjalanan darat.

Sesampainya di pusat kota, tujuan pertama kami menuju kale, kandiber kalesi, yakni bukit batu ditengah kota, uniknya dibeberapa kota di Turki, selalu ada bukit ditengah kota, di zaman dulu biasanya dijadikan benteng pertahanan atau pos pemantau untuk para kabilah yang membawa barang dagangan , kota Osmancık berada dalam ‘jalur sutra’ di masa Utsmaniyah. Seperti daerah -daerah terdekatnya kota ini juga sudah disinggahi banyak peradaban mulai dari Era Hittit (het) Phrygian, Persia, galatian, Pontus, Romawi, Byzantium, Danishmends, Selçuk dan Utsmaniyah. Di Era Utsmaniyah dibangun jembatan Koyunbaba, dan menjadi landmark kota Osmancik.
Koyunbaba köprusu atau jembatan koyunbaba adalah: jembatan batu lengkung yang melintasi sungai kızılirmak, sungai terpanjang di Turki, dibangun antara tahun 1484-1489, jembatan lengkung terpanjang yang dibangun selama era Utsmaniyah di anatolia

Koyunbaba itu siapa?
Julukan dari nama seorang alim/sufi, bernama Seyyid Ali lahir di Horasan-Erzurum dikirim ke anatolia/Turki untuk berdakwah setelah pulang ber haji, dia menetap di Osmancik, tidak ada informasi yang cukup tentang tokoh ini, diyakini sebagai keturunan ALi bin abi thalib, putra ke-12 dari imam Rıza, beliau juga murid dari hacı bektas, seorang wali di tanah anatolia, seorang pengembara, penggembala domba, Menurut suami: Beliau dihormati dan dipercaya sebagai salah satu waliyullah di Turki. Beliau tidak pernah menikah, lokasi makamnya ada di daerah Osmancik, dibangun pada masa Beyazıt 1469 dibangun diatas sebuah bukit, sayangnya kami tidak sempat ber-ziarah ke makam wali ini.

Kuliner?
Ehm karena menurut saya, makanan Turki umumnya ‘seragam’ dari aneka bumbu, tidak ada yang terlalu spesial yang ingin saya tulis, kami hanya mampir untuk makam döner, lalu Alya dipesankan sup nasi, berhubung kota osmancik adalah lumbung padi, jadinya ada sup nasi, lupa untuk difoto, sup rasanya seperti apa? hanya berasa nasi benyek direndem kuah kaldu daging dengan pasta tomat, rasanya ringan, sedikit hambar untuk lidah İndonesia, saya jadi bayangin nasi kuah soto betawi, dari sisi warna, tapi rasa? ibarat langit dan bumi heheh.
Kami hanya berjalan dipinggiran kizilirmak, ada kafe dan tempat berkumpulnya warga, karena cuaca juga cukup panas saat itu, tidak banyak lagi lokasi yang dikunjungi, tujuan kami biasanya museum, sayangnya kurang tahu lokasi museum dimana, ada atau tidaknya museum. Menjelang sore, meninggalkan osmancik menuju Çorum, mengambil arah berbeda dari pertama datang, sudah cukup kapok lewat jalan pegunungan, lebih baik ambil jalan berbeda meski jaraknya jadi lebih jauh, lewat pusat kota provinsi dulu kemudian baru menuju iskilip, paling tidak, aman dari rasa pusing dengan jalanan berkelok kelok melewati pegunungan, sebagai orang yang ‘anti mabok’ (nyombong dikiiiet:P) kalau naik mobil, rekor kemarin ke Osmancik cukup membuat saya hampir tumbang, jalanannya cukup menantang.
Jadi kalau membayangkan datang ke Osmancik berasa ke Tasik, garut atau Bali…oh jangan dibayangkan, karena banyak sawah, dari kultur juga jelas beda, di Osmancik tidak ada warga yang bangun kafe kekinian ditengah sawah, apalagi kalau ada tambahan menu gurame bakar, sayur asam, sambal dkk.., ikan mas, tidak!! hayalan jadi bubar, ujungnya kami tetap makan Döner kebab. Sawah osmancık tetap tidak bisa mengalahkan sawah terasering semacam di Bali yang cocok untuk healing, tapi jujur saja, beras lokal osmancik cukup mengobati rasa kangen dengan beras berkualitas pulen semacam rojolele kalau tidak salah ingat merk nya, saya pernah membeli beras osmancik dan kualitasnya juara, pulen sekali, tidak semua yang dihasilkan dari osmancik kualitas berasnya juga sama. Dan tentu saja ada harga ada kualitas. Dibanding beli beras impor di market, sering mengecewakan, apalagi beras cina.

Penasaran jalanny kalo mba aja sampe bisa pusing 😅. Aku biasanya ga mudah mual dan pusing juga mba, apalagi terbiasa Ama jalan Tarutung-Sibolga yg kelokan nya ada 1200an.
Tapi sbnrnya tergantung dari yg bawa mobil. Kalo suamiku jago, smooth banget. Kemarin pas mudik ke Sibolga, yg bawa papa , dan ga enak bgt cara bawanya , njut-njutan 🤣🤣. Anak2 yg biasanya ga mabok darat, jadi muntah 😂..
Beras cina memang aneh, aku juga ga doyan. Aneh sbnrnya, Krn mereka toh pemakan nasi juga. Tapi kok rasanya ga enak seperti beras Jepang dan Korsel. Thailand mah memang juara dr dulu 😄.
LikeLike
mungkn krn yg nyetirnya jg heheh..jalanan kecil gitu bukan tipe jalan lebar, yg bikin deg2an krn pinggiran jurang. sawah2nya ga secantik di İndonesia, dataran rendah aja, bkn terasering gitu
LikeLike