*Edisi curhat*
Karakter saya bukan seorang extrovert, tapi juga tidak sepenuhnya introvert, tidak merasa benar-benar memiliki teman terdekat terutama setelah menikah, menurut orang-orang ini adalah hal yang cukup wajar. Waktu lebih banyak disibukkan dengan keluarga, anak dan suami. Sebenarnya dengan teman di lojman pun tidak setiap hari bertemu, saya cukup malas, kalau tiap hari keluar gedung, lalu duduk di gazebo, menyimak obrolan mereka tanpa tertarik terlibat banyak percakapan, hanya pengamat, kehadiran saya juga terkadang terlupakan, masa bodosaja, menjadi pusat perhatian penuh bukan tujuan.
Dengan suami, setiap hari kami ngobrol, ya biasa saja, seperti hari ini, gara-gara pulang dari acara keluarga, dia cukup kelelahan, dan mendapat ujian sakit herpes zoster, bahasa lainnya cacar api, paha kanannya full ruam kemerahan dan bintik berair, anak saya Fatih, sampai jijik sendiri melihat ruam yang diderita babanya. Tapi sebagai istri, saya berusaha sebisa mungkin merawatnya, mulai mencari informasi, sampai kirim gambar ke grup WA, dan teman di jakarta meneruskan ke temannya yang lain dan kebetulan dokter kulit, akhirnya lewat perantara teman, diskusi dengan dokter di İndonesia, kesimpulan diagnosa beliau Herpes zoster, karena semua gejalanya ada, dan bentuk ruam-nya saya foto dan kirimkan semua.
Suami dapat rendevu tanggal 10 juni nanti, bisa dipahami karena lokasi tinggal kami cukup jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai, untuk dokter spesialis, harus dipusat kota atau kota terdekat, seperti awal tahun lalu saya bolak balik ke kırkkale. Di tempat tinggal saat ini hanya ada dokter umum yang bisa menangani, Dia juga sempat datang ke İGD, hanya diberi suntikan serum.
TV di rumah rusak!
Ah kabar buruk! tiba-tiba pagi hari TV kami tidak menyala, saya pikir karena remotenya habis batere, begitu diganti baru semua, TV tetap tidak menyala, suami sampai mencari informasi di internet, untuk servis ke pabrikannya, kartu garansi sudah expired, karena hanya 2 tahun, sedang TV kami beli sejak akhir 2018 lalu. Mau servis bulan ini, kami tunda dulu sampai bulan depan, mengingat kondisi keuangan, keponakan seminggu lalu menikah, dan sebagai kerabat terdekat, memberi hadiah çeyrek atau koin emas seperti wajib gitu, jadi alokasi keuangan untuk beli hadiah koin emas bulan ini-.-‘
Yang menjadi ujian adalah anak-anak, Fatih sudah kesal saja begitu tahu TV rusak, karena di rumah memakai PC dibatasi, dan kami tidak memberikan mereka HP, sebenarnya HP lama saya masih ada, meski layarnya retak sedikit, kondisi masih bisa digunakan, kalau Babanya tidak mengizinkan,saya tidak akan memberikan ‘pegangan HP’ sementara ke anak, biarlah mereka beradaptasi hidup tanpa TV, 7 tahun tinggal di İstanbul, kami tidak memiliki TV, baik-baik saja sebenarnya.
Saya kesepian
Untuk menghibur diri, saya balas komen atau diskusi via chat dengan teman teman, menghabiskan waktu di sosmed, tidak selamanya negatif, saya hanya ingin mengobrol, entah bahas apapun, seperti juga membuat cuitan di twitter, biasanya spontan saja, lagi ada foto di galeri hp ya saya posting. Saya juga kangen orangtua, sudah 5 tahun belum berjumpa, suami sudah menawarkan jika ingin mudik, sendiri saja dulu mengingat kondisi ekonomi Turki yang kurang baik, tentu saja berpengaruh, tabungan belum cukup untuk mudik sekeluarga, tapi saya yang tidak tega jika anak-anak tidak ikut serta. Baru saya cerita, Fatih udah mau nangis, kalau tidak diajak. Belum cukup tega meninggalkan anak-anak lama, dari mereka baru lahir, sepenuhnya saya rawat berdua sama suami, ikatan yang cukup kuat. Mereka juga tidak terbiasa jika dititipkan lama, sama hala-(tante)nya juga paling setengah hari tidak sampai menginap. Selalu bersama saya sebagai ibunya.
Kegiatan saya sehari-hari, ngurus rumah, hunting foto, ngurus anak dan ngurus suami yang sedang kena cacar api, keluar gedung saja jarang. Mengisolasi diri. Nunggu jadwal menonton drama, tidak semua drama saya tertarik menontonnya. Jika tidak ada tontonan menarik, beralih buka YT, cari kajian ilmu agama, filsafat kehidupan, atau komedi, kalau komedi biasa saya mampir ke chanel vindest, meski bahasa anak tonkrongan ya seperti itu, untuk kajian, Dr Fahrudin Faiz. Sisanya mencari bacaan surah surah yang saya targetkan kembali untuk dihafal. Almulk, al waqiah,Yassin, sudah hafal sebenarnya tapi daripada gabut di dapur nyanyi, biasa saya play video murotal, anggap saja murojaah sama ustaz YT, toh qori-nya juga terkenal semua.
Saya belum bisa disiplin penuh, tapi sekarang memaksakan diri, kalau Ramadan lalu bisa 1 juz tiap hari , kenapa hari biasa serasa sulit sekali? ketika merasa ‘insecure’ pelarian saya menghibur diri dengan murottal, salah satunya syeik sudais, karena bacaannya lebih mudah diikuti, syaikh mishary enak didengar, tapi mengikuti cara bacanya cukup kesulitan. Target saya: al kahfi, al fath, bisa juga karena di ayat-4, tentang tafsir dari makna ketenangan, meski sebenarnya surah al fath ini lebih mengkisahkan Rosululloh dengan kemenangan perang-perangnya, atau karena saya memiliki kenangan indah di istanbul dulu, ketika setiap jumat ibu ibu tetangga mengajak pengajian, dan saya sering sekali diminta baca, kalau tidak al waqiah atau al fath, dan setiap ayat terakhir 29, Setiap jamaah, akan menaruh satu tangannya didada, ketika ayat: Muhamadarrrosulullohhhhh dibaca, ada sensasi sendiri yang saya rasakan kala itu bersama ibu ibu pengajian. Sebuah luapan cinta untuk nabi Muhammad SAW.
Lalu surah al jumu’ah, ini juga sebenarnya hafal, cuma ya itu, jarang saya ulang bacanya, masih banyak yang berhamburan urutan ayat di kepala. yang saya sesalkan tentu saja juz 30 atau dikenal juz amma, untuk surah surah panjang, saya mulai lupa urutan ayatnya tapi otak masih menyimpan memori ketika mendengar murottal dan mengikuti bacaannya semua. Banyak yang harus saya perbaiki kembali. Untuk memotivasi diri, saya berulang-ulang menonton di youtube tentang kiat menghafal quran, saya dulu baru setengah jalan, jiwa saya masih terombang ambing dengan kepentingan dunia. ada dua ijazah dari pesantren yang dsimpan orangtua, tahun 1995 ketika saya ikut hataman juz 30, dan 98 untuk bin nadzri, ijazah bil ghoib atau tahfizah masih menjadi impian sampai detik ini. Dan saya sedang berusaha merangkai kembali memori hafalan juz amma dan binnazri yang beserakan:( ini target dan tujuan saya tahun ini, jiwa saya serasa terombang ambing terus tanpa tahu keinginan sebenarnya, melihat teman teman sukses dibidang yang mereka sukai, saya senang, tapi tidak iri juga, hanya bertanya apa sebenarnya yang saya inginkan itu.
Karena saya merasa kesepian, tidak memiliki sahabat yang benar benar membuat saya terbuka sepenuhnya, semenjak menikah tentu saja ada batasan yang saya buat, urusan rumah tangga tidak semuanya bisa saya ceritakan penuh. Belakangan selepas Ramadan, saya sudah memantapkan untuk menggunakan 1 mushaf kecil saja, hadiah ulang tahun ke 31, diberikan suami tahun 2014. Sebisanya saja saya meluangkan waktu, selepas maghrib, diluar itu banyak kerjaan rumah, tadi juga magrib suami masih menyalakan mesin cuci, dan keranjangnya dibiarkan di koridor rumah, saya dorong ke depannya, minta dia jemur cuciannya di balkon, lalu angkat jemuran.
Pelepasan saya mungkin seperti ini, pengendalian diri cukup stabil, antara hobby buka sosial media atau urusan akherat, entah saya ni manusia apa, totalitas kesatu sisi belum bisa, jika merasa kesepian melanda, baca kuran selalu menjadi penenang jiwa, seperti makna ayat ke-4 surah al fath: 4. Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana; meski makna khususnya ditafsir lebih ke kisah nabi dan para sahabat mengenai perjanjian hudaibiyah, Dalam makna umum, bahwa Allah akan menanamkan ketenangan hati, kesabaran, dan ketabahan bagi setiap orang yang beriman , bagi jiwa yang gersang menurut saya.
Saya butuh ketenangan hati, bahwa saya baik baik saja secara mental. Tulisan ini hanya curhatan gak jelas lewat tengah malam*
