Semenjak pandemi 2 tahun lalu, kami membatasi sekali acara kumpul keluarga, hanya datang ke desa, ke rumah mertua dan 1 kakak ipar yang paling dekat, itupun terbatas sekali. Dan baru tahun ini, 2022. Kami mulai silaturahmi offline lagi dengan keluarga besar.

Dimulai waktu hari raya lalu, 2-3 mei, tapi karena si Baba tetap masuk kerja, kami berkunjung di hari raya ke-2, sepulang suami kerja langsung meluncur ke Çorum, sebagian keluarga tinggal di pusat kota. Berkunjung ke paman-paman suami, lalu ke salah satu rumah kakak sepupunya dan juga teman ibu mertua yang sangat dekat dengan kami. Sorenya baru berangkat ke desa untuk menginap. Kalau ditanya menu lebarannya apa? tidak jauh dari aneka kudapan manis, coklat, permen, baklava ,kadayıf.

Pernikahan keponakan

Dua minggu setelah hari raya, salah satu keponakan menikah, keponakan suami ada 12 orang, 7 sudah menikah dan menyusul 1 lagi. Dan yang kami hadiri adalah keponakan ke 8 yang menikah. Seminggu sebelumnya dia sudah melakukan pernikahan resmi secara hukum negara dan juga akad nikah secara islam, untuk di Turki memang kedua prosesi ini terpisah. Dan baru hari sabtu dan minggu 21-22 mei lalu diadakan syukurannya di rumah pribadi, tidak menyewa gedung untuk pernikahan.

Kakak ipar memilih syukuran dan sekalian kına gecesi di rumah, kına geçesı atau malam hena, biasanya dilakukan sehari sebelum pernikahan, tapi karena menikahnya udah satu minggu lalu, malah hena digabung dengan acara syukuran.

Acara dimulai sore hari, uniknya disini, persiapan syukuran tidak seheboh di İndonesia, umumnya jika hajatan di rumah, akan pasang tenda dan dekorasi sehari sebelumnya, tapi di keluarga kakak ipar, pengantin sudah full make up, tenda, organ tunggal dan katering datang mepet acara. Jadi pengantinnya malah duduk di balkon rumah sambil menunggu dekorasi acara siap hehehe… unik memang.

pengantin yang sudah siap, mengecek dekorasi, katering yang baru datang

Tidak ada tenda, tapi menyewa kursi dan meja saja, saya juga sempat terpikir nanti ‘‘misbar” dimana, gerimis langsung bubar. Mungkin sudah diprediksi kalau cuaca ketika hari-H cerah, tidak perlu pasang tenda. Kursi-kursi yang disewa juga sederhana , hanya deretan kursi plastik, bukan kursi yang dihias kain dan alas agar terkesan mewah.

Tamu pria dipersilahkan makan terlebih dahulu, semua dilayani pihak katering yang membawa pelayan sendiri, perusahaan katering yang disewa milik sepupu si baba juga, serdar. Anak dari paman İbrahim, adik kesayangan ibu mertua, karena acara keluarga, pihak kateringnya cukup royal memberikan menu sup daging dari biasanya, sebagai anggota keluarga turut memeriahkan acara, memberi banyak bonus menu hajatan. Tapi jangan dibayangkan menu lengkap layaknya hajatan di İndonesia, menu kateringnya biasanya sudah disiapkan di piring kotak, layaknya makan di kantin. Piring yang digunakan berbahan melamin, pelayannya sigap juga langsung bersihkan meja begitu para tamu selesai makan. Begitu tamu pria selesai makan, lalu bergantian dengan tamu wanita. 3 kali saya menghadiri hajatan orang kampung di Turki, acara makan tamu pria dan wanita selalu terpisah. Seperti biasa, selesai acara makan, minuman yang dibagikan adalah teh Turki sambil menikmati acara menari bersama.

katering milik sepupu sendiri jadi penanggung jawab bagian konsumsi

Prosesi acara hajatan

Karena acara intinya malam hena, (mengenai malam hena di Turki nanti saya tulis terpisah*)acara dimulai sore hari, karena acaranya di rumah mempelai perempuan, mempelai laki-lakinya akan datang nanti dipuncak acara. Pengantin diiringi orang orang terdekat membuka acara dengan menari di depan tamu-tamu, beberapa sepupu suami ikut menari termasuk keponakan-keponakannya, saya hanya tertarik mendokumentasikan acara , sengaja membawa kamera menangkap moment acara hajatan di rumah kakak ipar. Apa tidak ikut menari? tidak terbiasa dan tidak tertarik untuk joget joget hahahah aduh malu aja gitu.

Acara menari bersama semakin ramai menjelang malam, beberapa tamu ikut bergabung, oh ya, karena pihak mempelai pria belum datang, acara menari dikhususkan perempuan dulu, beberapa tamu undangan, bapak-bapak pilih menyingkir dan tidak ikut menari tapi lebih pilih mengobrol satu sama lain sambil menikmati teh panas yang ditawarkan pelayan.

Puncak acara ditandai dengan suara tabuhan drum khusus, pihak mempelai pria dan rombongan akan hadir, dari kejauhan sudah terdengar suara keramaian, seperti terompet dan drum, sang mempelai membawa drum layaknya anggota marching band diiringi kerabat dan teman temannya masuk ke tempat acara, sang mempelai wanita datang menyambut, mereka menari bersama, suasana malam itu begitu meriah dan terasa hidup, semua orang turun melantai menari, mulai tarian berpasangan atau tarian rakyat, saya iseng godain si baba, ”ayo dansa” dia malah menguap dan tidak tertarik sama sekali. Belum tentu orang Turki suka menari semua, salah satu contoh nyata, suami sendiri, dia paling ga suka sebenarnya acara kehebohan tari menari seperti itu, melelahkan, ujarnya. Tapi karena acara keluarga, kalau hanya tamu undangan biasa, mungkin selesai makan langsung pilih pulang saja.

prosesi malam hena

Selesai dengan prosesi ‘hena’ kemudian rombongan beriringan dengan pawai mobil menuju rumah mempelai pria, sebelumnya rombongan mempelai pria berangkat terlebih dahulu, setelah itu baru rombongan mempelai wanita, saya? tentu saja wajib ikut, karena penasaran, ada acara apalagi di rumah mempelai pria.

Berlima dengan Enişte (panggilan untuk pasangan dari kaka ipar perempuan**) kami ikut menyusul rombongan, sempat terjadi insiden kecil, bemper belakang nabrak pagar, karena si Baba parkir di area belakang rumah dan tidak adanya penerangan, setelah dicek bagian belakang mobil, dan hanya ada sedikit goresan, perjalanan dilanjutkan. Enişte mengambil alih kemudi, karena dia yang lebih paham lokasi rumah besannya.

Setelah sampai di depan rumah besan, rombongan kumpul dahulu di depan gerbang, dengan aba-aba, dan sang mempelai membawa drum dan mulai menabuhnya, lalu diiringi musik, sambil bergoyang Dan acara joget joget di depan rumah besan dimulai, wah luar biasa, semua turun untuk menari, tidak ketinggalan tante -tante juga ikut memeriahkan, saya yang dipaksa bergabung, bertahan dengan memegang kamera, cukup jadi seksi dokumentasi saja malam itu, lalu kemana si Baba? dia memantau kemeriahan dari kejauhan, tidak jauh dari mobil diparkir, matanya menahan kantuk, setelah saya cek jam di HP, menjelang tengah malam, wah pantesan beliau sudah mengantuk.

suasana hajatan di kampung

Puas menari-nari, iya acara cuma heboh menari bersama, mengelilingi kedua mempelai yang masing masing membawa davul, ada tim organ tunggal yang mengiringi semua tamu. Sudah seperti acara dugem-ajep-ajep dengan kearifan lokal, ada minuman? oh ada, tentu saja Çay panas, beberapa ibu ibu yang tidak ikut menari, duduk manis sambil menikmati kehangatan teh Turki, dicuaca cukup dingin malam itu.

Tiada pesta tanpa tari
live music

Setelah itu, rombongan mempelai pulang kembali ke rumah, acara selesai. Badan baru terasa lelah begitu bertemu kasur, orang orang Turki ini luar biasa untuk urusan menghidupkan pesta. Saat itu kami menginap di desa satu malam, karena rumah kakak ipar, sudah ada kakak ipar tertua yang datang dari İstanbul beserta anak dan menantunya, mereka menginap di rumah mempelai (yang punya hajat kakak ipar nomer 3) kami mengalah menginap di rumah anne. Begitu sampai di depan rumah, ternyata anne lupa bawa kunci-.-‘, kita gedor-gedor pintu, berharap baba mertua bangun, tidak membuahkan hasil, ditambah baba mertua terganggu pendengarannya, dalam kondisi normal saja, bicara dengan beliau harus dengan suara keras, apalagi kalau beliau sudah tidur pulas. Kemudian suami cek jendela depan, ternyata belum terkunci, anne mencoba mencari kunci cadangan yang dia simpan di gudang, karena jendela sudah terbuka, dan fatih bisa masuk, kemudian dia membuka pintu depan. Cuaca di desa tengah malam cukup dingin ketika bisa masuk rumah, lega rasanya, langsung mengincar kasur. Esoknya masih ada acara pelepasan mempelai wanita dijemput keluarga mempelai pria secara resmi, nanti saya cerita lagi…