Ketika makan sore, sebenarnya jadwal makan malam, tapi lebih awal. Fatih kita tanya tentang cita-citanya, awalnya si baba selalu ngotot: Fatih jadi polisi, Fatih jadi tentara! seperti cita-cita baba yang tidak kesampaian. Saya selalu bilang, biarkan dia dengan impiannya bukan impian kamu! Akhirnya baba luluh dan mengatakan, apapun kelak cita-cita kamu, lakukan yang terbaik saja. İntinya Baba udah ga ngotot banget kalau anak sulungnya meneruskan impiannya.
Fatih ketika saya pancing tenang keinginannya, ”jadi mau ke jerman?”,dia menggelengkan kepala, saya pernah mergoki fatih asyik depan youtube, untuk belajar bahasa jerman sendiri, dia menulis ulang kosa kata dan percakapan bahasa jerman.
”Fatih mau ke amerika?’‘, lalu dia tersenyum. Anak ini masih bertekad pergi ke amerika, waktu ditanya amerikanya dimana? dengan mantap dia mengatakan : Texas. Saya dan babanya hanya tersenyum, ditanya mau profesi apa, belum terpikirkan, hanya saja dia kok pengen banget pindah negara hahahah, waktu saya tanya, ”kenapa ga pilih İndonesia?”, dia kurang sreg, wah apa saya kurang mengenalkan tanah air sendiri, sehingga dia lebih pilih amerika.
2 tahun lalu, saya pernah merekam percakapan dia dengan anak petani depan komplek, melissa, Fatih mengobrol banyak, menjelaskan ke melissa tentang bagaimana cara pergi ke amerika, kata Fatih: harus punya paspor, punya koper dan pergi ke bandara (dia lupa urusan visa:D) kemudian menjelaskan tentang pemeriksaan koper sebelum naik pesawat, kemudian terbang.
Untuk saat ini, cita-cita spesifik Fatih, belum jelas, dia hanya tertarik membuat tank baja, bisa terbang dan bisa menyelam, atau mungkin mau mengembangkan penemuan baru, entahlah. Saya selalu ingatkan untuk memperlancar bahasa inggris terus, Sejauh ini, nilai bahasa inggrisnya di sekolah selalu memuaskan, karena motivasinya : Amerika. APa mau jadi presiden?
Kenangan ini saya tulis di Blog, semoga suatu saat, jika terkabul dan masih menemukan tulisan ini, jadi pengingat.
Saya mengatakan ke Fatih, untuk ga takut bermimpi dan melangkah, saya tidak akan menahan dia dirumah, terbang bebas meraih mimpi, rumah tempat kembali, adalah kami: orangtuanya. Sekarang menikmati quality time masa-masa anak masih bersama dalam pelukan kami, seiring tahun dan umur, kedewasaan akan datang dan dia harus siap menghadapi kehidupannya, tugas kami, mendidik, mengarahkan, tentang langkah di dunia dan bekal untuk akhiratnya. Sebisa mungkin berusaha selalu ada untuk mereka, tempat mereka berkeluh kesah.
Terbang lah nak, suatu saat akan kamu gapai segala impianmu, doa anne baba selalu menyertai.

Masih berubah-ubah kl anak2…😅 kalau yg cewek mau ke Amerika juga nggak…boleh kah
LikeLike
iya memang, tapi dia mantep gitu ga mau di Turki:D heran
LikeLike
Wadidaw Fatih udah ngerti ajah gimana cara ke Amerika 😀
LikeLike
dia kayaknya masih inget mudik terakhir, naik pesawat prosedurnya gmn:D
LikeLike
Akupun masalah cita2 anak ga mau maksain mba. Biarkan pilihan mereka sesuai bidang yg mereka suka. Aku belajar dari pengalaman sendiri, yg mana semua2nya wajib ngikutin kata papa. Aku seneng IPS dan paling bagus di sana, tapi ga diizinin dan wajib masuk IPA. Mau masuk perhotelan dilarang, mau ambil sastra ga boleh dgn alasan mau jadi apa ntr. Banyak lagi lah yg hrs ngikutin semuanya. Imbasnya ke hubungan ortu anak. Jadi ga bisa akrab. Aku ga mau kayak begitu ke anakku.
Mereka mau jadi seniman sekalipun, jalanin aja. Yg penting sebagai ortu, kita support dan doain trus.
LikeLike
iya setuju:D dulu pengen masuk smsr-sekolah senirupa di jogja dilarang, masa katanya lulusan pesantren masuknya sekolah seni, harusnya madrasah aliyah, eyel2an jadinya asal masuk SMA aja, keterima di ipa juga, ibu ngarepnya kayak tradisi keluarga besar, nanti kuliah di UİN, atau UPİ gitu, nanti jadi guru..j,saya milih jln sendiri heheh
LikeLike