Sebagai pelaku kawincampur dan mengikuti pasangan menetap di negaranya, pertanyaan seperti ini sering kali terdengar setiap bertemu orang baru, ” betah ga ?” Tidak hanya Turki, mungkin banyak teman-teman lain di negara berbeda, sering juga dapat pertanyaan seperti ini? Kalau boleh memilih, lebih suka dimana? ya dimanapun asal sama suami. Klise banget ya, alasannya: karena sudah menikah, dan ketika sudah diamanahkan dari wali (ayah kandung) ke lelaki pilihan yang berani mengucapkan ijab kabul di depan penghulu, tanggung jawabpun beralih ke lelaki yang menjadi suami. Meski disatu sisi perasaan ‘berat’ berpisah dengan sanak keluarga awalnya ada, tapi hidup memang pilihan. Kalau tetap berat tidak ingin berpisah dari keluarga di İndonesia, tapi suaminya ga ridho? lalu untuk apa terjadinya pernikahan.

Saya juga diposisi sebagai anak, yang hidup jauh dari orangtua, memilih hidup bersama dengan suami di negaranya. Pertanyaan lebih nyaman hidup dimana sering sekali terdengar? Sebagai orang İndonesia, saya menyukai suasana, İndonesia sebagai tanah kelahiran, wajar jika memiliki keterikatan emosional, lahir dan menghabiskan waktu 28 tahun di İndonesia. Lalu sekarang? saya hanya terus belajar beradaptasi dengan keadaan, lingkungan.

Ternyata? disatu sisi saya nyaman saja hidup di Turki, tiap orang memiliki nasib berbeda hidup di negara ini, apa yang membuat saya nyaman? saya dan suami memiliki ranah pribadi yang keluarga hormati. Dalam arti, Bersyukur memiliki keluarga di Turki bukan tipikal keluarga yang selalu ikut campur terlalu dalam urusan anak menantu, langka sebenarnya tipe seperti ini, mengingat kekerabatan Turki terkenal cukup kental.

Dalam pengasuhan anak-anak, suami mempercayakan penuh ke saya, intervensi ipar, minimalis sekali, apalagi ibu mertua, beliau mengatakan, kalau saya wanita dewasa, berpendidikan, untuk mengasuh anak, pastinya jauh lebih paham sesuai zaman. Waktu saya posting foto tentang memandikan bayi berusia seminggu, sepupu di kampung kaget, karena membandingkan ketika dia melahirkan dan adanya campur tangan keluarga. Ya ga heran juga, setahun awal menikah dan saya belum hamil, pertanyaan ”kapan hamil?’ juga datangnya dari İndonesia. Sedang keluarga Turki, santai sekali.

Bukan lingkungan perokok

Alasan lainnya, karena si baba emus bukan perokok, keluarganya pun bisa dihitung siapa saja perokok, anak-anak hidup dilingkungan jauh lebih sehat menurut penilaian saya, dibanding jika hidup dekat dengan keluarga di kampung, mayoritas kaum prianya, jamaah cerobong asap, ”ngudud = lifestyle”

Anak-anak belum terpapar gadget

Padahal anak-anak di Turki juga sama aja sudah disodorin HP demi bisa tenang. İtukan mereka, kalau kami, terutama si baba emus, sampai sekarang masih ketat melarang anak-anak pegang HP. Saya sering ditegur jika si Alya mulai pinjam hp untuk main filter app. Fatih juga belum diberikan HP, baba berjanji jika sudah cukup umur, diberikan HP, karena dia masih sekolah dasar, sementara ini masih terlarang. Lalu apakah mereka jadi kurang kenal teknologi? tidak juga. Di rumah ada PC, dia main game dari PC, browsing dari komputer juga, sehingga saya bisa periksa jejak histories-nya karena akses pc hanya 2 jalur: terutama untuk google, semua pakai akun saya. Mengenalkan fotografi juga salah satu yang saya berikan, saya ajarkan teknis dasar motret, saya kenalkan software untuk edit dan vector. Kecuali sosial media.

Kok bisa, mereka belum terpapar HP? bisa saja, faktor lingkungan sedikit individualis di lokasi tinggal, ditambah mereka berdua tidak memiliki, sepupu seumuran, sepupu mereka rata-rata diatas usia 20 tahunan. Biasanya anak-anak mudah iri ketika melihat anak lain, Ketika berkumpul dengan keluarga besar dan hanya mereka berdua, anak-anak, diminta nonton TV juga cukup, karena tidak ada anak lain yang sibuk main game hp.

Apa saya melebih-lebihkan tentang kondisi hidup di Turki? balik lagi ke ‘tiap orang memiliki nasib masing-masing dimanapun menetap’. Untuk kondisi ekonomi saat ini memang serba sulit, kasus kriminal, asusila, kdrt juga banyak, saya tidak menampik itu. Lalu apakah problem buruk yang dialami seseorang dan dia ‘Koar-koar’ dimedia menjadi penilauan penuh. Sampai menulis 90 % orang Turki seburuk yang dia temui, padahal hanya merasakan hidup 3 bulan saja, itupun karena kerja ilegal, ehmm.

Saya juga sering menegur suami, kalau dia mulai komen buruk, karena pernah dipalak petugas bandara diawal datang ke İndonesia, tidak semua aparat sejelek itu, toh terakhir mudik, waktu saya salah gate jemput dia, ada bapak bapak tentara yang nolongin, meminjamkan hp dan menelpon saya. Selalu ada orang baik di dunia ini, dan saya percaya, masih banyak orang baik itu ADA. Baik di Turki maupun di İndonesia.

Pernah mendengar kalimat seperti ini: Kalau kamu berpikir buruk terus, hal buruk itu yang akhirnya datang dan menjadi nyata, kekuatan pikiran.

Saya terapkan juga ketika hidup dimanapun, Sewajarnya saja mengkritik, dimanapun tidak ada peraturan yang benar-benar sempurna selalu ada celah, kecuali peraturan yang sudah ditetapkan Tuhan, selalu ada hikmah kebaikan untuk ummatNya. Sedang peraturan dunia buatan manusia? Sistem buatan manusia?

Contoh, saya sering membaca komen netijen yang memuja negara maju, sistem sekolah bagus, lingkungan bagus, bersih, tertib dan hal positif lainnya, disatu sisi mereka seakan lupa, bagaimana peraturan tegas urusan pajak di negara negara tersebut.

Sekadar bertukar pikiran, saya suka saja, tapi untuk menjatuhkan satu sisi, padahal saya juga sudah terikat penuh dengan sisi itu, seperti melukai diri sendiri, toh anak-anak juga memiliki darah dari sisi itu.

Saya juga sering terpancing emosi, ketika ada berita buruk dari negara asal, mempertanyakan sistem, tapi menghujat dan mencaci maki, untungnya buat saya apa. Hanya menumpahkan kekecewaan tanpa harus sumpah serapah urusan manajemen emosi.

Disatu sisi, saya juga terusik ketika banyak yang menjatuhkan Turki dengan penilaian buruknya , menilai dan menyamaratakan semua buruk sampai mengarang berapa persennya, apakah sudah survey dari provinsi Edirne sampai provinsi Ağri, ujung ke ujung Turki.

Orang baik, ulama, orang soleh juga banyak di Turki, disamping banyaknya juga orang sekuler, atheis, pencinta alkohol atau kehidupan bebas. Apakah adil menyamaratakan semua manusia yang hidup di negara tersebut.

Manusia diciptakan beragam, perbedaan tradisi, bahasa, karakter, sudah sejak dulu adanya, bahkan dalam alquran surah al hujurat ayat 13 sudah diterangkan: Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah menciptakan kalian menjadi laki-laki dan perempuan, dan (dengan menciptakan manusia berpasangan) kami telah jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling bertakwa diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha teliti.

Perbedaan adalah Rahmat….

saya kadang juga gemas dengan banyaknya perbedaan budaya dengan suami atau teman teman Turki, tapi berbicara jelek tentang tradisi mereka juga ga elok, toh kita juga akan tersinggung ketika dikomentari buruk akan cara makan atau menu makanan yang biasa kita santap di tanah kelahiran. Saling menghormati saja, atau sekadar lelucon untuk menghibur. Bukan berarti saya pasrah ketika pihak orang Turki mencela makanan, saya terangkan saja tentang perbedaaanya, masalah dia tidak mau mencicipi, bukan urusan saya.

Untuk saya pribadi, selalu menanamkan pemikiran positif, dimanapun tinggal dan menetap, karena apa yang saya pikirkan buruk terus, hal buruk itu yang akhirnya datang terus menerus. Selama menetap di Turki, bertemu prilaku warga lokal yang buruk vs yang baik, nyatanya saya selalu dipertemukan orang-orang baik. Untuk kasus bertemu orang yang buruk, jadi pelajaran saja jika berurusan dengan tipe seperti itu lagi.

Apa bahagia terus 100 persen hidup di Turki?

Bukan jaminan juga, kebahagiaan ga datang dari luar, kita yang menciptakan, problem kehidupan apalagi berumah tangga tentu saja ada, naik turun, bagaimana kuatnya bertahan dan saling merangkul kembali ketika mulai dititik menyebalkan.

Dimanapun tinggal sejatinya apa yang disebut ‘rumah’ adalah mereka yang membuat kita merasa aman, keluarga. Dan karena saya sudah berkeluarga dengan pria Turki, dia lah rumah saya, meski masih loncat loncat terus tempat tinggalnya. Mau tinggal dimana saja, saya hanya mencoba terus beradaptasi, namanya juga pengembara di alam dunia, hanya numpang mampir. Kehidupan di dunia berapa lama sih? jatah umur manusia juga berkurang terus, kita bukan ummat nabi Nuh atau nabi nabi pendahulu sebelum Rosululloh SAW. Beliau wafat diusia 63 tahun.

Meributkan mana ras paling hebat, budaya paling kuat, sekadar bahasan, mana tempat tinggal yang paling baik, hanya membuang buang energi.

Kalau nyaman, saya nyaman nyaman aja tinggal dimanapun asal bareng orang yang disayangi, klise emang pemikiran saya tuh.