Di Turki solat tarawih dilakukan umumnya 23 rakaat, masjid-masjid juga ramai dengan para jamaah tarawih, biasanya ibu-ibu nge-tag tempat solat terlebih dahulu di saf belakang khusus perempuan atau biasanya di lantai 2 masjid, selama tinggal di İstanbul, saya sempatkan untuk tarawih ke masjid jika memungkinkan, mengingat saat itu anak-anak masih balita. Terakhir tahun 2018, saya mengajak mereka tarawih ke masjid, Alya saat itu belum genap 2 tahun, membawa balita ke masjid, jangan harap bisa solat khusu’, sisanya lebih banyak ngajak mereka main di masjid, pulang jam 12 malam, tapi suasana sekitar masjid tetap ramai, kedai es krim yang tidak jauh dari masjid selalu ramai pembeli, tentu saja dua anak ini tidak ketinggalan untuk membeli.
Malam sekali ya jam tarawihnya? kalau jam iftar pukul 20.00 malam, atau dulu pernah pukul 21 malam baru azan maghrib, bisa dihitung jam tarawihnya menjelang tengah malam. Tapi karena tahun 2022, Ramadan datang di musim semi, awal april, waktu puasa sedikit lebih ramah, 15 jam. Jika dibandingkan Ramadan pertama saya di Turki tahun 2012, di puncak musim panas dan iftar pukul 21 lewat, lemah letih lesu, badan kaget dengan panjangnya waktu puasa pertama kali. Soal suasana Ramadan, beda negara tentu saja sedikit berbeda tradisinya, dari menu buka puasa atau sahur, termasuk pelaksanaan tarawih.
Tarawih bersama tetangga di komplek
İni pengalaman pertama saya diajak tarawih bersama teman-teman komplek, saat itu hanya 7 orang yang berkumpul termasuk saya, 3 orang lainnya tidak bisa ikut tarawih karena disibukkan dengan anak balita mereka. Merve, tetangga baru kami di Blok B, kebetulan dia juga ber niqab, pemahaman agamanya jauh lebih baik, kita menghormati dia sebagai hoca, Merve yang selama ini memimpin tadarusan dan ngajak tarawih, berkumpul di rumah sumeyye di Blok A, kebetulan suaminya sedang dinas malam, jadi rumahnya bisa kami tempati untuk tarawih di ruang tamu.
Karena ini pengalaman pertama saya diajak tarawih hanya ibu-ibu, bukan di masjid melainkan di rumah. Awalnya saya berpikir, kami akan solat berjamaah dipimpin Merve sebagai imam solat, ternyata tidak! mulai dari solat sunah rawatib, solat isya, tarawih, solat witir kami lakukan sendiri-sendiri, dengan membuat saf solat biasa, loh agak aneh memang untuk saya. Tidak ada imam solat tarawih, hanya berkumpul untuk solat bersama. Kemudian membaca solawat serif dan doa seperti biasanya. Saya dan salah satu teman, fehriye, membahas perbedaan gerakan solat, karena umumnya teman-teman muslimah Turki bermahzab hanafi, dalam duduk tahiyat biasanya tidak menggerakan jari telunjuk seperti ini:

Mereka hanya menaruh kedua tangan seperti tangan kiri tanpa mengangkat jari telunjuk ketika duduk tahiyat, Menurut Fehriye, untuk sebagian muslim Turki di daerah timur, banyak juga bermahzab syafi’i seperti di asia tenggara, ketika duduk tahiyat, menggerakan telunjuk seperti di gambar, sebagian besar hanafi. Tidak.
Rencananya akhirnya pekan, mereka mengajak untuk tarawih ke masjid pusat, karena lokasi cukup jauh dari komplek tinggal, pembahasan kendaraan untuk pergi ke carsi, jadi topik setelah tarawih. Karena saya belum bisa nyetir, ikut nebeng saja dengan Fehriye, lalu sumeyye juga inisiatif, meski dia bimbang juga karena anak keduanya masih bayi, apa tetap lanjut pergi ke masjid pusat. Luar biasa bukan? disaat kita dihadapkan keterbatasan, teman-teman Turki tetap berusaha menghidupkan Ramadan, 2 tahun sebelumnya, Meski satu komplek jarang berinteraksi, saling membatasi diri karena covid yang menyebalkan itu.
Tahun 2022, mulai berinteraksi kembali, merindukan juga suasana Ramadan seperti saat kami belum menetap di komplek lojman. Bisa jadi Ramadan 2022, hanya sekali kami rasakan bisa berkumpul seperti ini, tahun 2023, masa tinggal kami rata-rata sudah selesai dan harus pindah dari komplek dinas, Merve masih ada sisa waktu, karena baru tahun lalu pindah ke komplek, saya dan beberapa teman, angkatan pertama menempati komplek dinas yang baru selesai dibangun 2018.

Disela-sela obrolan, kita juga membahas ‘perjalanan’ selanjutnya jika pindah dari komplek dinas. Fehriye sudah menegaskan, jika musim panas tahun ini kemungkinan pindah kembali ke kota asalnya, sanlı urfa. Suaminya mahmud, sebagai anak lelaki pertama, merasa bertanggung jawab untuk kembali menetap di kota asal, karena baru saja ayahnya wafat dan ibunya tinggal sendiri, Dulunya tinggal di kota Mardin sebelum datang ke iskilip. Beberapa teman lain, rata-rata dari İstanbul seperti Sumeyye, suaminya dulu tugas di silivri, sedang Merve, ternyata suaminya adalah rekan si baba emus di Ümraniye, sudah saling kenal sebelumnya, termasuk dua rekan dia juga yang kebetulan satu gedung, salah satunya adalah suami si Nazli, teman dekat saya. Yakub suaminya Nazli, rekan kerja si baba emus juga di istanbul, circle-istanbul yang saling terkait semua dan sama-sama mendapatkan penempatan di iskilip. Tahun depan kemungkinan berpisah semua, Jadinya moment tarawih pertama bersama bisa juga terakhir untuk kami.
Ada pertemuan dan akan kembali bertemu perpisahan, begitulah perjalanan hidup saya selama menetap di tanah Anatolia, tahun depan kemana? hanya baba emus , tempat kerjanya dan Allah yang tahu…, Dia masih galau, karena banyak pertimbangan. Anne yang belakangan sering mengeluh sakit dan minta diantar ke dokter atau anak yang sudah masuk sekolah. Yang jelas harapan saya, tempat tinggal nanti dekat dengan masjid, supaya mudah untuk saya mengantarkan anak-anak kuran kursu atau pergi tarawih. itu saja.

Luar biasa yaaa, mereka berusaha utk tetep meramaikan tarawih, walopun dikerjain sendiri2, tapi setidaknya ttp usaha bersama2. Agak beda Ama di sini yg semangatnya utk bukber 🤣🤣.
Aaamiiin mbaaa, semoga penempatan selanjutnya bisa Deket Ama mesjid yaaa. 🤗
LikeLike
aamin, anak anak minta deket laut lagi kyk di istanbul, bosen di gunung heheh, iya ni dalam keterbatasan malah pada semangat
LikeLike