Ketika memutuskan untuk menikah, usia kami berdua 28 tahun, anak pertama lahir ketika usia saya tepat 30 tahun, 1 tahun masa dihabiskan untuk adaptasi lingkungan,keluarga. Saya ga terlalu peduli pertanyaan klasik ”kapan punya anak?” bersyukurnya keluarga suami bukan tipikal keluarga yang menuntut diberi cucu secepatnya. Kalau keluarga İndonesia, ya biasalah ya…,
Komunikasi kami menggunakan dua bahasa, Turki mix inggris, karena terlalu sering dicampur aduk, hasilnya bahasa Turki saya emang masih kurang bagus, hingga memutuskan ikut kursus secara serius, waktu ditanya hoca-nya, ya jujur aja bilang, biar bisa komunikasi full Türkche, enaknya lagi, hoca-nya bisa ditanya tata-bahasa Turki, yang sering beda makna, atau mempertanyakan istilah sehari hari, ketika saya tanya: hazir yiyecekler–makanan kemasan– kenapa disebut aburcubur? kalau nanya suami? suka disesatkan, saya pernah nanya, kalimat bahasa Turki yang saya buat untuk PR, dia bilang: OK, taunya salah! asem! kan, sengaja banget. Berguru dengan orang yang tepat adalah solusi terbaik. Orang yang bisa bahasa Turki, belum tentu juga bisa ngajarin benar, disesatkan juga sering, contoh: suami sendiri. Ketika saya makin lancar, dia malah khawatir: ”kamu jangan lancar-lancar lah jadi cerewet kayak mamak mamak Turki”. Padahal target lainnya, karena saya ingin baca buku buku koleksi suami yang semakin hari semakin menumpuk.
Saya tipikal manusia, yang bicara seperlunya, tapi jika sudah ngerasa ‘klik’ dalam sebuah hubungan pertemanan, bisa juga nyerocos terus, waktu bertemu kembali dengan sahabat lama, kebetulan saya menginap di rumahnya saat itu, bayangkan kami begadang di depan tv sampai subuh, hanya untuk ngobrol, dia teman saya di pesantren ketika Mts, lalu SMA kita berpisah, Bertemu lagi ketika sudah lulus SMA, nah ngobrol semalam suntuk menceritakan masa-masa SMA yang kita lalui, meski tidak bersama satu sekolah lagi. Sampai ibunya kaget waktu bangun subuh, posisi kita tidak berubah dari depan TV dan masih ngobrol. ”Kalian tidak tidur?”
Dengan suami, bagaimana komunikasinya? layaknya seorang pria, kadang ga fokus jika diajak ngobrol, ujungnya menyimpulkan sendiri, bahkan ketika memasuki bulan april, saya selalu ingatkan hari lahir saya, ‘unutma’! dan tanpa rasa malu, saya tagih hadiah. Karena menunggu inisiatifnya memberi kejutan super romantis, lupakan! kita bukan tokoh drama korea. Dan sebagai istri, bukan tipikal pasif! mau sesuatu harus tegas ngomong, karena menebar kode dan ranjau sebanyak apapun terkadang kurang peka. Jadi harus ada inisiatif. Malah terkadang terlalu inisiatif, penuh visi misi kedepan, misal sudah merencanakan baju lebaran untuk tahun depan belinya dimana.
Menikah itu, seni membangun komunikasi
Apapun sebisa mungkin kita bicarakan, terkadang dia lupa, pagi-pagi pergi dari rumah tidak pamit, siang belum pulang? saya telpon, hanya ingin tahu keberadaannya, siapa tahu lagi di Mall, bisa nitip sesuatu*** atau dia sendiri yang inisiatif telpon, nanya minta dibawakan apa, jika kebetulan sedang ke pusat kota Çorum.
Seperti hari ahad lalu, dia pergi ke Çorum tanpa pamit, siangnya telpon nanya mau nitip apa, saya tidak bertanya apa keperluannya pergi ke pusat kota. Pulangnya dia inisiatif sendiri cerita, kalau mengantarkan yunus (yunus pernah saya posting di blog lama, teman beliau yang masih single, tapi sekarang udah menikah dan baru saja dikarunia anak) teman awal kerjanya di Maltepe İstanbul.
Yunus minta diantar untuk membeli kendaraan, tepatnya kendaraan second, dulu ketika masih single, dia selalu naik motor sport setiap berangkat kerja, karena sekarang sudah berkeluarga, motornya dijual dan beralih ke mobil, kondisi inflasi, harga mobil bekas jadi lebih mahal. Dia tetap beli karena emang butuh untuk berkendara, lokasi tinggal dan akses kendaraan umum terbatas.
Suami menceritakan semua, apa yang dia lalui seharian. Kalau untuk pekerjaan, dia bercerita seperlunya saja, karena teman kerja dan banyak juga yang jadi tetangga di komplek, dia ga terlalu banyak cerita, berasa ngeghibahin tetangga terus.
Meluangkan waktu berdua
Anak jangan selalu dijadikan tameng, untuk alasan kurangnya waktu berdua, ini yang selalu kami usahakan terus, memberikan pengertian ke anak-anak, ada waktunya sebagai orang tua butuh waktu berdua, bepergian meski hanya mengambil air di cesme, lalu jalan jalan di çarsi, pulangnya mampir market, membeli kebutuhan rumah tangga dan selalu tidak lupa ‘reward’ untuk anak-anak yang mengizinkan kami pergi berdua. Komunikasi dengan mereka sebisa mungkin juga lancar, kedekatan yang kami ciptakan sendiri, sehingga kehadiran kami cukup mengisi ruang hati mereka.
Setiap malam menjelang tidur, pelukan hangat dan kecupan sebisa mungkin kami berikan, ketika anak-anak sudah terlelap, baik saya atau suami, selalu mencium dan memeluk anak-anak, terutama ubun ubunya, kita sering mengucapkan kalimat positif ditengah alam bawah sadar mereka, atau bacaan doa.
Lalu ketika kami berdua, sewajarnya pasangan suami istri, terkadang ngobrol receh, ketika menemukan gambar atau video lucu di sosial media, kita tertawa bersama, obrolan tidak harus seberat beban hidup, ngobrolin lucinta luna juga pernah, saya main tebak-tebakan: dan dia dengan yakin mengatakan kalau lucinta luna aslinya tidak terlahir berjenis kelamin perempuan. Jarang saya bahas politik Turki sama suami, cuma memancing dia untuk sumpah serapah hahahah.
Semua bisa dikomunikasikan
Mungkin ini yang disebut sefrekuensi bisa ‘klik’. Ketika bertemu pasangan yang asyik cosplay jadi apapun, jadi teman ngobrol ya seru, jadi suami bertanggung jawab, keluarga terdekat. Goodlooking adalah bonus. Dulu tipe ideal saya:cukup hitam manis dan senyum yang menawan, secara fisik. Lainnya bisa dibicarakan. Tapi seiring waktu, bertemu teman ngobrol yang asyik jauh lebih menyenangkan daripada sekadar penampilan fisik yang sempurna, tapi hobby merendahkan lawan bicara, jadi nilai minus.
Kalau ujungnya saya berjodoh dengan orang asing-ya karena orang ini bisa ‘klik’ , tipikal orang yang kurang bisa membuka obrolan dan dia selalu bisa menghidupkan obrolan, jago lah basa basi. Dari sini kami merasa bisa saling melengkapi, dia yang gampang panik sendiri dan saya yang bisa menenangkan emosinya.
September tahun lalu, sepulang belanja untuk kebutuhan anak-anak masuk sekolah, mobil kami ditabrak dari belakang, adu mulut ga menghasilkan solusi apapun, si penabrak hanya minta maaf, karena mobil dia jauh lebih parah kondisinya, suami kembali nyetir tapi pikirannya kurang fokus, malah hampir hilang kendali, nah disitu tugas saya untuk balikan kesadarannya. Berusaha tenang ketika dia panik. Berusaha membantu mencari jalan keluar.
Biasanya ketika emosi dia tidak stabil, saya pilih diam, hanya mendengarkan segala gerutuan, kekesalannya, dia ngomel-ngomel sendiri. Setelah bisa menguasai keadaan, baru saya ajak bicara, menanyakan kondisinya? menawarkan sesuatu yang dia butuhkan.
Dan ada kalanya ketika pikiran dia sudah tenang, dan kita bisa ngobrol santai, saya utarakan apapun yang menjadi keberatan saya, terutama ketika dia emosi! anger management! karena ada kata-katanya yang melukai saya. kondisi pikiran sudah tenang, baru dia tersadar, dan meminta maaf, merasa diluar kendali.
11 tahun bersama, sedikit demi sedikit kami bisa lebih saling mengenal kebiasaan masing-masing,kapan kondisinya tidak cocok diajak bicara, kapan kondisinya baik. Apapun problem kami berdua, maksimal 3 hari marahan (belum nyampe juga sih 3 hari) seringnya sehari kelar, sebelum beranjak tidur, selalu saling memaafkan, lepas siapa yang sebenarnya salah duluan. Ah takutnya kalau sebelum tidur masih marahan, besoknya malah ada yang pergi duluan—, sedih kan.
Kadang obrolan receh kami, ketika saling menyentuh kulit diwajah: ”wah apakah perlu krim malam sebelum tidur”. ‘anti aging’
Atau sebelnya ketika saya beli masker atau krim kulit, dia sering protes, ”buat apa sih beli ginian”?, sampai rumah ” eh tadi masker yang kamu beli mana? minta dong”
Bosen ga? 24 jam sama suami terus, jarang gaul sama teman sesama WNİ? loh tiap hari juga ngobrol sama teman wni meski lewat sosial media, kalau butuh curhat tinggal telpon teman yang bisa dipercaya.
Memperbaiki komunikasi terus menerus adalah kunci.
Kunci terbaik rumah tangga biar ga terlalu banyak drama, kalau pasangannya kurang kreatif dan inisiatif, ya sebagai istri yang maju duluan, lupakan rasa gengsi, toh suami sendiri, bukan suami orang. Misal ada kebutuhan biologis, kenapa harus malu malu kucing? kucing oren aja zaman sekarang ga tahu malu hahaha.
