Ramadan 2022, dipostingan sebelumnya saya menulis tentang bagaimana suasana Ramadan yang akan dihadapi, bagaimana mengisi Ramadan karena tinggal di daerah yang jauh dari peradaban? Suasana Ramadan yang saya dapatkan lewat media sosial saja, sudah membayangkan akan seperti apa Ramadan tahun ini. Jauh dari Masjid apalagi kegiatan seputar ramadan.
Belum lama setelah saya posting, teman mengundang saya masuk ke grup tadarusan di WA grup, selang sehari, tetangga seberang pintu, mengajak saya juga ikut kajian Ramadan yang dilaksanakan beberapa tetangga gedung, lalu? apakah ada malaikat yang mampir membaca blog ini, kemudian apa yang saya pikirkan dan tuangkan dalam tulisan di blog ini, langsung terkabul. Saya mendapatkan suasana Ramadan itu kembali. Sibuk, kurang tidur, tapi luar biasa menyenangkan. Jadinya hari hari selama berpuasa, tidak monoton, banyak kegiatan meski di rumah saja,tapi suasana Ramadan begitu terasa. Berikut kegiatan yang saya buat sendiri selama bulan suci Ramadan meski di rumah saja:
Jadwal kegiatan Ramadan dirumah aja.
Sahur
Untuk sahur, saya menerapkan metode sahur food combining, sahur dengan buah buahan, ini kita terapkan, Fatih yang sedang belajar berpuasa juga lebih suka sahur dengan menu buah dan cukup minum air putih saja, dengan durasi 15 jam lebih berpuasa, dia mengatakan bisa tahan lapar dan haus, berbeda ketika menu sahur diawal Ramadan dia makan menu biasa, nasi dan daging, lemes seharian, hari ke-3 dan 4 hanya sanggup setengah hari. Setelah mengubah menu sahur ke buah-buahan, dia sanggup puasa penuh.
Tadarus Alquran
Ada 2 grup tadarus yang saya ikuti: 1 dengan teman teman İstanbul yang masih saling kontak, saya ikut bergabung dengan teman teman wni di istanbul, setiap hari 1 juz dibaca bergantian, ada ustazah yang akan membantu mengkoreksi jika bacaan tajwid peserta masih kurang sempurna, tadarus sambil belajar lagi.
lalu siangnya, grup tadarus komplek lojman, meski hanya 10 orang, kebetulan ada teman baru pindah ke lojman dari ümraniye, suaminya mantan rekan kerja si baba emus di Ümraniye-İstanbul, sudang saling kenal baik, tapi dengan istrinya saya baru kenal di grup ini, dan istrinya ini berniqab, ilmu agamanya cukup baik, dia yang mimpin kajian, dan memberikan tausiyah, di grup ini, hanya satu teman yang bertugas membaca , lainnya menyimak, saya sempat baca satu surah di luar pembacaan alquran.
Kajian online
Sebisa mungkin ikut hadir di majlis virtual, seperti pengajian yang dibuat oleh pihak KBRİ, jadwal hari ahad, beberapa sering juga saya dapatkan undangan di grup grup WA.
Masih lanjut kursus bahasa, hanya 1x dalam seminggu.
Tarawih
Tarawih di rumah, saya laksanakan 11 rakaat saja, umumnya tarawih di Turki 23 rakaat.
Majlis dzikir
Saya gabung di Grup telegram -Maziwid- untuk rutin baca dzikir harian yang diterapkan, solawat, dzikir, bacaan hizip, solat tasbih tiap awal bulan, yasin,al kahfi, al mulk, al waqiah untuk dirutinkan. Pesertanya dari berbagai daerah dan wni yang tinggal di luar negeri. Buat saya ini juga ‘healing’ vitamin untuk jiwa, saya tidak menargetkan sepenuhnya untuk target hajat dunia, tapi benar-benar untuk mengisi kekosongan jiwa. Ketika terus berusaha dan membiasakan, jadi rutinitas yang menyenangkan.
Tambah sunah
Rutinkan solat sunah. Untuk solat malam, terus terang saya kurang disiplin, tapi Ramadan diterapkan setiap malam sebisa mungkin tegakkan tahajud. Biasanya hanya merutinkan dhuha.
Sedikit kisah saya tulis kembali, semoga bisa diambil hikmahnya saja: Dhuha bagi saya adalah kunci memulai hari, rasanya ada yang kurang jika tidak melaksanakannya , biasanya sebelum saya memulai aktivitas membuat sarapan, solat dhuha dulu, minimal 2 rakaat, setelah itu baru memulai aktivitas lain.
Bisa jadi ada peristiwa yang begitu menyentuh hati hingga saya tidak ingin meninggalkan dhuha sama sekali, entah sejak kapan awal saya rutinkan, peristiwa menyentuh itu adalah, ketika saya bekerja di kantor terakhir, betapa banyak kemudahan yang Allah berikan, tidak pernah takut kekurangan, meski akhir bulan bagi sebagian orang tidak menyenangkan, rezeki selalu ada saja jalannya.
Diuji ketika uang tinggal 300 ribu, berniat untuk pulang ke rumah dan membawa oleh oleh breadtalk untuk keponakan dan emak, tapi tidak mau menggunakan uang akhir bulan tersebut? bagaimana caranya?apa berhutang pakai kartu kredit? tidak, saya tidak kenal kartu kredit selama bekerja hanya cukup kartu debit. Pertolongan itu datang, tiba-tiba diminta gantikan teman yang tidak bisa lembur, karena produknya penting, atasan meminta saya untuk mengerjakan semua, padahal saya tinggal nge-print (dalam bentuk mesin print besar, khusus desain) selesai lembur, kurang dari jam 12 malam sudah selesai, dan kebetulan kost di belakang kantor,tidak terlalu khawatir pulang malam. Atasan langsung memberikan uang cash 300 ribu, eh..kok? iya sesuai dengan nominal yang saya butuhkan. Esoknya langsung saya beli oleh oleh dan pulang ke rumah, sama sekali tidak menggunakan uang akhir bulan. İni hanya sebagian kisah yang membuat hati saya tersentuh, Allah Maha baik.
Dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena Aku pada awal siang (shalat dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)-mu sampai sore hari.” (HR Tirmidzi).
Ekonomi sulit dan matematika Allah
Turki memecahkan rekor terburuk inflasi 60 % , demi ekonomi tetap jalan, roda perekenomian tetap berputar, tidak heran belakangan Turki diserbu turis asing kembali, berbondong bondong WNİ juga datang dengan iming iming tiket murah, sementara warganya babak belur dengan kenaikan harga, kenaikan pajak yang menggila, Kebijakan pemerintah negara ini yang entahlah….,
Matematika Allah bagaimana? ada kekhawatiran? sebagai manusia biasa, pasti ada!, apalagi suami sebagai pencari nafkah, merasakan sekali dampak terbesar, mengatur pengeluaran, supaya anak istri tetap terjamin. Tapi lagi-lagi urusan rezeki itu bukan ditangan pakar ekonom, tapi ditangan Allah.
Seperti untuk Ramadan kali ini, Kebutuhan pangan datang dari mertua, beliau dan ‘kantong ajaib’nya perpanjangan dari Allah, tadi siang si baba telpon dari tempat kerjanya, minta saya temui dia di balik pagar kawat, kebetulan lojman dan tempat kerjanya dibatasi pagar kawat saja. Saya turun kebawah dan bertemu dengan suami, dia menyerahkan dua kantong selada hasil panen dari rumah kaca yang dikelola warga binaan, iya ini rezeki! disaat harga sayur di market mengalami kenaikan luar biasa, selada yang dulu seikat cukup bayar 1 lira dan naik jadi 13 lira, bahkan di istanbul mencapai 25 lira, saya mendapatkan selada dengan harga ramah tamah.
Alhamdulilah kebutuhan makanan tercukupi di rumah, meski kondisi sulit secara ekonomi. Ramadan selalu penuh berkah.
Sedekah
Merutinkan sedekah nominal uang cukup jarang, karena di kota kecil, jika ada kotak amal dan pas ada uang ya diisi, untuk bertemu langsung orang dhuafa atau peminta minta, belum pernah lihat di kota ini. Bukan karena tidak ada orang miskin? tidak ada yang mengadahkan tangan di jalan. İtu saja. Meski ada banyak via online, tapi itu urusan suami saja. Terus terang saya jarang transaksi online.
Kemudian, saya ajarkan anak-anak, sedekah dengan cara lain, seperti memberi makan hewan hewan liar, burung-burung yang sering numpang eek di balkon, atau anjing kangal di depan gerbang komplek, menyisihkan sebagian sisa makanan untuk mereka, sama sama makhluk ciptaan Allah.
Hasilnya, anak-anak jika makan daging ayam, sengaja tidak dihabiskan, mereka sisakah sebagian untuk anjing kangal, dicampur sisa roti atau sup. Jadi makanan tidak terbuang sia-sia.
Mengganti sedekah lewat solat dhuha
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap sendi tubuh setiap orang di antara kamu harus disedekahi pada setiap harinya. Mengucapkan satu kali tasbih (Subhanallah) sama dengan satu sedekah, satu kali tahmid (Alhamdulillah) sama dengan satu sedekah, satu kali tahlil (La ilaha illallah) sama dengan satu sedekah, satu kali takbir (Allahu Akbar) sama dengan satu sedekah, satu kali menyuruh kebaikan sama dengan satu sedekah, dan satu kali mencegah kemungkaran sama dengan satu sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan melaksanakan dua rakaat shalat dhuha.” (HR Muslim dan Abu Dawud).
Sesibuk apa di rumah? Alhamdulilah, meski energi terkuras, kurang tidur, saya berusaha curi-curi waktu tidur, disamping menemani anak-anak di rumah, masih juga mengenalkan anak-anak tentang agama, lalu ikut kegiatan baik online maupun offline bareng tetangga.
Target saya ga muluk-muluk, sebisa mungkin mengisi kegiatan Ramadan yang bermanfaat, ingat pesan habib ja’far saja: Berpikirlah kalau ini Ramadan terakhir kita di dunia, jadi maksimalkan mengisinya dengan berbagai kegiatan positif, peningkatan diri, Tidak terbiasa tahajud, paksakan untuk bangun dan solat sebelum sahur, belum lancar baca alquran, belajar perlahan, datangkan guru, atau ikuti video konten positif tentang belajar baca alquran.
Di era serba dimudahkan lewat teknologi, ada banyak jalan untuk kita mengisi kegiatan positif Ramadan, tinggal satu: ada keinginan atau tidak.
NB: Terimakasih sudah membaca, tulisan ini hanya sekadar berbagi cerita saja, tidak ada maksud menggurui atau menyombongkan diri, apalah saya ini..-.-‘

Pengingat banget buatku ❤️❤️. Kadang aku malu sih mba. Zaman masih kerja kantoran, Alhamdulillah aku jarang skip Dhuha. Tapi sejak resign dan kerja di rumah, ntah kenapa kok malah kacau dan jarang 😔. Ramadan ini masih lumayan tahajud, Krn sebelum sahur, jadi masih disempetin. Cuma Dhuha jadi banyak skipnya -_- .
Biasanya caraku balik on track, ya banyakin baca yg seperti ini. Jadi inget lagi manfaatnya, dan jadi termotivasi utk rutin lagi
LikeLike
saya cuma nyoba rutinkan aja, meski cuma 2rakaat, diburu hrs masak buat sarapan..krn menjadi pembiasaan,berasa ada yg kurang kl kelupaan, iya tahajud getolnya pas ramadhan, hari2 biasa berat jg hehe..apalagi tidur paling akhir trus dirumah, semoga selepas ramadhan msh bs konsisten, saling mendoakan aja ya fan:)
LikeLike