Apa cukup bahagia dengan kehidupan yang sekarang dijalani? Bohong kalau saya bilang 100 persen bahagia terus, kehidupan selalu ada pasang surut. Setiap orang diuji rumah tangganya dengan berbagai jalan. Ada yang diuji soal anak, keluarga pasangan, ekonomi, ujian kesetiaan, banyak hal. Kerikil kerikil berserakan selama perjalanan hidup pasti selalu kita injak, terkadang ya sangat mengganggu, apalagi jika kerikil itu tajam, bisa juga kita singkirkan bersama supaya perjalanan kedepan baik-baik saja.

Menetap di negara baru hampir sebelas tahun, takdir semenarik itu. Mungkin emak saya waktu melahirkan dulu, tidak juga terpikir bahwa puteri ke-3 nya akan hidup terpisah jauh terus. Berawal dari lulus SD memutuskan melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah di Pesantren sehingga keterusan sampai kuliah, lebih betah merantau keluar dari rumah. Semua skenario kehidupan yang sudah terlewati, ada campur tanganNya, begitu juga ketika saya hidup di Turki? terpikir saja tidak.

Terkadang saya merenung…, sudah sejauh ini kaki saya melangkah, menatap seseorang yang Allah takdirkan untuk membersamainya. Mendekati puncak usia…,

Hidup kita itu tidak pendek, namun kita yang membuatnya demikian, kita bukan serba kekurangan, namun kita mempergunakan segala yang kita miliki secara sembarangan (tentang sebuah kesia-siaan)

Hidup itu sia-sia:

ketika kita tidak menggunakan waktu dengan baik

Ketika kita terlalu banyak membuat alasan, menunda nunda tindakan sehingga akhirnya kita tidak melakukan apa-apa yang bermanfaat.

Ketika kita tidak mendayagunakan, memanfaatkan berbagai fasilitas anugerah dari Tuhan secara baik, kita menggunakannya secara sembrono, Sebuah kesia-siaan.

Makna kebahagiaan seperti apa?

Setiap ada waktu senggang, biasa sambil memasak di dapur, mendengarkan kanal youtube sering juga saya lakukan, mendengarkan bukan menonton, karena lebih banyak audio dari pada gambarnya, biasa kajian filsafat dari Dr Fahrudiddin Faiz. Banyak tema menarik menurut saya, salah satunya kutipan kutipan dari filsuf SENECA (Lucius Annaeus Seneca jr.) Seorang filsuf era Romawi.

ilustrasi: twitter Habieb ja’far

Kebahagian menurut Seneca

Seseorang menjadi sengsara, karena dia berpikir dirinya begitu. Begitupun dengan kebahagiaan. Bahagia atau tidaknya tergantung pemikiran kita,tentang diri kita sama sekali tidak ada hubungannyanya tentang hal-hal di luar diri kita, kuncinya adalah: Anggapan terhadap diri kita itu sendiri.

Dengan kata lain: kebahagiaan memang kita sendirilah yang mengkreasikannya.

Saya masih saja terus mencari makna hidup, usia mendekati kepala empat, hal apa saja yang sudah saya gapai, bahagiakan selama ini saya menjalani kehidupan, apakah selalu saja merasa kurang, hidup seperti apa yang sebenarnya saya inginkan? Lalu tersadarkan kembali oleh berbagai kutipan yang saya catat dibuku, salah satunya Filsuf seneca menjelaskan juga tentang makna kesederhanaan.

Hidup sederhana itu seperti apa idealnya?

Dalam islam bisa juga disebut sifat qonaah, Qonaah sebuah sikap tentang merasa cukup atau menerima apa saja atas segala hasil yang sudah diusahakan, menjauhkan dari rasa kurang atau tidak puas.

Sederhana: Menerima apa adanya, mensyukuri apa yang kita miliki (mental kaya). Apabila merasa belum puas dengan apa yang dimiliki sekarang, maka tidak akan pernah puas juga meskipun seluruh dunia telah dimiliki, menurut seneca, inilah mental miskin sebenarnya.

Kata Sederhana memiliki ekuivalen dengan mental kaya: merasa cukup, puas dengan yang dimiliki saat ini.

Tidak sederhana: Ekuivalen dengan mental miskin, selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah dimiliki.

Tidak ada yang lebih terhormat melainkan hati yang penuh syukur, orang yang selalu bersyukur sekecil apapun sangat berkualitas dirinya.

Rumus kesederhanaan: Rasa puas dengan apa yang dimiliki, senantiasa bersyukur. Sampai kita bisa melanjutkan hidup tanpanya, kadang kita tidak sadar betapa banyak hal yang tidak penting, kita menggunakannya bukan karena kita membutuhkannya namun karena memilikinya saja.** ini lebih ke sifat manusia yang selalu berlomba-lomba, memuaskan keserakahan, mengkoleksi, menumpuk barang yang sebenarnya tidak terlalu berguna***

Apapun yang melewati batasnya akan selalu dalam keadaaan tidak stabil, jangan berlebihan, termasuk ya urusan kebaikan, menjadi orang baik, alhamdulilah..tapi menjadi manusia yang amat sangat terlalu baik juga merugikan dirinya sendiri.

Seorang perempuan yang masih saja bertanya apa sebenarnya yang dia cari

Orang melihat saya dari luar, terlihat tenang , tapi dalam pikiran layaknya pasar penuh hiruk pikuk, Melihat orang lain selangkah lebih maju, pikiran iri sesekali mampir, lalu ditepis ‘ah kamu belum tentu tahu sebenarnya kehidupan dia seperti apa, setiap orang memiliki rahasianya sendiri’ nasehat nasehat penyemangat dari teman juga sering saya baca dan dengar, akan tetapi ujungnya pengambil keputusan ya diri ini. Masih terus mencari apa sebenarnya tujuan yang ingin digapai. Pencapaian dunia kah dalam hal materi. Toh nyatanya jika diukur materi, harta apa yang saya miliki? di Turki? rumah masih kontrak, hanya kendaraan? atau melihat teman yang pamer pencapaiannya dengan tagline:perempuan harus mandiri. Apa itu juga yang saya inginkan: kebebasan finansial, apapun bisa dimiliki? ketika takarannya duniawi, nyatanya memang benar seperti kutipan diatas, meski seluruh isi dunia sudah dimiliki akan tetap merasa tidak puas, justru ini mental miskin sebenarnya, hee agak ajaib jika pemikiran Seneca bagi sebagian orang.

Sebuah kesia-siaan: Orang orang yang begitu hemat dalam menjaga harta pribadi mereka, namun dalam menggunakan waktu mereka sangat boros!!! jlebb… ini kah yang saya rasakan! Banyak waktu yang kita gunakan penuh dengan kesia-siaan, berkutat dengan pikiran yang tidak pernah selesai inginnya apa, menunda nunda kesempatan yang ada sambil berharap ada kesempatan baru yang akan datang. dan berakhir hidup kita ya begitu saja! tidak ada kemajuan.

Banyak kekhawatiran

Wajar saja saya sempat panik dengan kondisi kehidupan di Turki, pertengahan februari lalu, ketika negara tetangga Rusia dan ukraina terlibat perang dingin, berdampak ke ekonomi, parahnya inflasi di Turki, suami yang harus memperketat pengeluaran, menurut teman hanya ada dua opsi: memperketat pengeluaran atau menambah pemasukan, ah saat ini kembali ditahap memperketat pengeluaran. Pemikiran tentang menambah pemasukan tentu saja melintas dikepala, banyak cara juga saya lakukan, meski saat ini belum menunjukan hasilnya. Tapi saya selalu yakin:Rezeki itu ada jalannya sendiri. Saat ini ilmu sabar dulu diterapkan. Mendadak viral, flexing lalu mendapat julukan crazy rich? tidak juga berpikir sejauh itu, sesuatu yang instan tanpa jelas sumber awalnya diantara perkara halal dan haram, jika memang bukan hak-nya semudah itu Allah memutarbalikan keadaan.

Mendengarkan ilmu ilmu yang bisa menyirami hati yang gersang, lalu menarik kembali kesadaran, ayoo hidup bersyukur! setiap orang diuji masing masing, semua memiliki ujiannya sendiri, berlian yang berkilau pun melalui proses panjang.

Kemudian diantara kegalauan yang tidak penting! ah saya bilang manusiawi saja, saya masih harus mengucap beribu syukur: Karena ada dia! sahabat dan teman hidup yang membersamai, dimasa tersulit pun berusaha untuk sama sama berjuang. Masih bisa berbagi senyuman hangat sampai kelakuan konyol, tanpa terlibat badai konflik asmara seperti kisah: ”it’s my dream!!” yang fenomenal itu. Baik-baik saja!

Mental saya harus kaya!! Memaknai kesederhanaan seperti seneca: merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang ada saat ini.

Keserakahan manusia tidak akan ada habisnya, berlomba lomba dalam pencapaian duniawi, pikiran harusnya disederhanakan saja, apa tujuan akhir dalam hidup kita sebenarnya! goal terbesar?

****Bekal untuk kehidupan selanjutnya**** Apapun pencapaian terbaik kita saat ini, kebermanfaatan kita saat ini, semoga bisa jadi amal jariyah di kehidupan selanjutnya, hasil kerja keras di dunia , Memanfaatkan segala fasilitas Tuhan untuk tujuan kebaikan dan menjadi tabungan, investasi terbaik ketika siap menghadapi sakaratul maut.

Entah lah setiap bergelut dengan pemikiran keduniawian muaranya akan tetap kesana…,