Memasuki bulan maret 2022, setelah akhir februari lalu, dunia ramai dengan bersitegangnya Rusia vs Ukraina, sedang saya tinggal di negara yang terbilang bertetangga, hanya dipisahkan laut hitam dengan kedua negara ini, wajar aja sih sebagai manusia biasa, rasa khawatir itu ada:
Kondisi ekonomi Turki yang sedang sulit, inflasi menggila, rasanya ingin mencari pemasukan tambahan?iya pasti terpikir kesana, justru lucunya ketika teman yang saya nilai sukses jadi youtuber dan bisa menghasilkan uang adsense terbilang lumayan, masih mengatakan: Kalau saya lebih beruntung? karena pekerjaan suami tergolong stabil? dimata orang luar, banyak juga pemikiran seperti ini. Kenapa mereka yang terbilang sedang menikmati pemasukan tinggi jadi tidak percaya diri, kalau bisa mengelola dengan baik, saya yakin bisa stabil.
Bukan berarti kami baik-baik saja dengan kondisi inflasi, jelas terdampak besar, lokasi tinggal yang hanya bisa ditempuh kendaraan, bukan tinggal diperkotaan, harga BBM meroket, jelas mencekik. Harus pikir ulang untuk bepergian, memikirkan nasib sekolah anak-anak, karena bayar mobil jemputan dan Alya diantar jemput mobil pribadi. Berat? tentu saja. Babanya sampai berpikir untuk stop TK, Entah masih jadi pertimbangan, semoga tidak sampai berhenti. Alya butuh sosialisasi dengan teman sebaya.
Tidak lucu ketika baca komentar ‘sontoloyo’ netijen İndonesia yang berharap perang dunia ketiga terjadi, karena mereka berpikir hidup jauh di pelosok İndonesia? dikira hidup mereka juga akan baik-baik saja? dimana İndonesia juga ketergantungan import cukup tinggi, sekarang saja harga minyak naik ramai juga di sosial media, bagaimana kala harga tahu tempe juga naik? makanan rakyat tapi bahan utama kedelai impor, pasti berdampak besar, gandum juga impor, padahal juga bahan dasar makanan rakyat, macam mie instan, pecinta gorengan. Ya paling bisa salahkan saja Pemimpinnya.
Overthinking lainnya, ingin mudik, sudah masuk tahun ke-5 belum pulang?ingin rasanya undang orangtua ke Turki, tapi kata kakak tidak memungkinkan, karena kondisi kesehatan. Dan mudik sekeluarga ke İndonesia, saat ini? suami sanggup jika saya mudik sendiri dulu, tapi mana tega sama anak-anak. İya pikiran saya kemana-mana saat ini, atau efek suntuk dari tanggal 21 februari, saya tidak keluar rumah, keluar dalam artian, pergi dari komplek, 1 kali keluar untuk buang sampah.
Mungkin jenuh juga ya, karena harus ngurus dua pasien, eh 3 ditambah Alya, meski dia tidak dinyatakan positif covid, tapi baba hasil tes positif, begitu juga Fatih. Saya kebagian batuk batuk terus belum reda, mungkin juga positif, meski tes sebelumnya dinyatakan negatif, lalu suami seminggu kemudian tes dan positif, sedang interaksi sama dia terbilang dekat sekali. Saya tidak ikut tes lagi. Ngurusin mereka terus , rasa kurang enak badannya ga dipikirkan.
Tapi beliau juga Alhamdulilah, suami siaga, tahu diri ketika kondisinya sudah membaik, demam udah hilang, langsung gerak bebersih rumah lagi, nyuci baju, ngevacuum, ngepel. Remuk badan saya kalau masih harus ngurusin semua juga. Rumah dibersihkan, semoga virus virus juga pergi.
Udah mulai bicara sama suami, kalau saya jenuh, dia bilang :”sabar’ baru hari rabu depan diizinkan masuk kerja dan aktifitas di luar lagi, biasanya kalau jenuh, kita menghabiskan waktu di yayla, tempat pelarian daripada ke mall…ngirit aja sebenarnya.

Sedang jenuh dan mendekati PMS itu perpaduan sempurna mood turun drastis, mikir macam-macam, ah dasar perempuan memang hehehe, Menulis di Blog seperti ini sedikit melegakan, karena terkadang bingung mau cerita sama siapa. Menulis salah satu cara saya: healing:)
Saya juga kepikiran suami, semalam tidak sengaja melihat data pencarian di google, dia sedang mencari informasi S2, ingin melanjutkan kuliah masternya, tapi kendala biaya dan situasi ekonomi seperti saat ini, ada teman gelin berbagi informasi tentang suaminya yang lanjut s2 dan beasiswa, sayangnya nilai yds suami tidak memenuhi syarat pengajuan beasiswa. Semoga ada titik cerah gitu dapat beasiswa dari tempat dinasnya, ehm kenapa ya di Turki, buruh negaranya tidak difasilitasi seroyal İndonesia, ada gaji ke-13, THR..disini ya dapat gaji ya syukur aja, sementara kubur dulu impiannya sampai kondisi membaik, siapa tahu ada jalan rezekinya nanti.
Terus terang, dia yang sekarang adalah tempaan kerasnya hidup di masa mudanya, kadang ya suka sedih gitu membayangkan masa remajanya ternyata tidak seperti anak muda Turki lainnya, dia harus bekerja untuk membiayai pendidikannya, lulus SMA kerja apa aja serabutan, daftar akademi polisi, militer ga lulus, lalu kuliah asal ambil jurusan aja, malah ga lanjut, Beliau anak desa, rata-rata keluarga besarnya , dia diantara sepupu-sepupunya kebanyakan tidak terlalu mementingkan pendidikan tinggi, hanya suami yang lanjut sampai bergelar sarjana, atas biaya sendiri, sepupunya ada yang hanya lulus sekolah dasar saja. Lalu terbersit ingin lanjut S2, buat saya pribadi sebuah pencapaian, dia layak untuk terus maju.
Semangat belajar beliau cukup tinggi, tiap hari menjadwalkan waktu untuk membaca buku, membuat spot sendiri di ruang tamu, dan tumpukan buku yang mau dia baca. İya saya mengagumi suami sendiri disisi ini, sedang semangat saya sebatas baca berita di sosial media, baca novel online, webtoon, stok buku berbahasa turki semua dan beberapa bhs inggris, sudah saya tamatkan meski agak lambat.
Semoga tahun 2022 ini bisa dilewatkan dengan lancar meski diawali dengan tidak mudah…., biar mengurangi overthinking terus…
Rasa khawatir, haduh kapan negara tetangga kembali dalam situasi kondusif, ego pemimpin-pemimpinnya yang mengorbankan rakyat, bagaimanapun perang yang paling dirugikan rakyat sipil.

Lupakan netizen, kebanyakan tidak tahu apa yg mrk akn hadapi.
Dampak ke depan panjang utk Eropa. Nggak ngerti knp Barat main-main dg Ukraina. Kalau banjir pengungsi menyusahkan diri sendiri .
LikeLike