Jumat tanggal 18 februari, sepulang sekolah, fatih sempat main ke park di komplek, dijemput temannya yasin, pulang menjelang magrib, dia terlihat kelelahan. Jam makan malam, kebetulan masak sayur capcay, saya tawari untuk makan, tapi dia menolak. Bilangnya nanti aja kalau lapar, menjelang pukul 8 malam saya tawari lagi makan, baru fatih mau makan.
Malam sekitar jam 10, langsung naik ke kasurnya. Tidur lelap. kemudian pagi-pagi dia menghampiri saya, karena merasa kurang enak badan, saya sentuh keningnya, mulai terasa panas. Karena jam sarapan, dan saya belum masak, ambil dua buah apel di kulkas kemudian memotongnya, taruh dipiring. Segelas besar air putih dan saya beri perasan lemon. Saya bilang: ” habiskan air minumnya, kemudian makan buah dulu, nanti baru sarapan utama”. Fatih nurut dan makan apel dan air putih segelas besar, tapi kemudian lanjut tiduran.
Baba yang baru pulang kerja pagi, saya beri laporan, anaknya demam. Kemudian saya lanjut masak untuk sarapan, lagi-lagi saya siapkan buah potong di meja makan, Fatih ikut sarapan kemudian masuk kamar lanjut tidur lagi. Babanya periksa, menjelang siang diajaklah ke rumah sakit. Bukan apa-apa, saya agak trauma dikit karena fatih ini punya riwayat kejang jika panas cukup tinggi, stok paracetamol selalu sedia di rumah. Dulu 2x diajak mudik ke İndonesia, dua kali pula saya berurusan ngajak dia ke dokter karena sakit, panas tinggi sampai kejang, diare. Kalau Fatih mulai ngeluh demam, saya jadi waspada.
Waktu itu saya ga berpikiran kalau si baba ngajak anaknya tes PCR, ditunggu lewat maghrib belum juga pulang, jadi khawatir.
Hasil tes dikirim via SMS
Tepat pukul 10 malam, ada sms masuk ke hp babanya, dan juga dari E-nabiz, hasil test fatih keluar dan dia dinyatakn positif covid. Langsung lah sama babanya jadi ‘overthinking’ tengah malam kami sibuk dengan hp masing-masing, googling berbagai informasi tentang penanganan covid terhadap anak-anak. Untuk informasi saja di Turki, anak seusia Fatih belum mendapatkan vaksin! Saya juga sulit tidur, kepikiran Fatih, mana kontak langsung juga. Menjelang pukul 3 pagi baru bisa tidur.
Pagi, si baba ngajak saya dan Alya ke rumah sakit untuk tes covid, dan pertamakalinya merasakan hidung dicolok-colok. Menunggu hasilnya beberapa jam kemudian, jika hasilnya negatif hasil test langsung masuk di aplikasi Hayat eve sigar aplikasi untuk memantau kasus covid di Turki. Jika Positif, masuk lewat SMS kemudian mendapatkan telpon dari satgas Covid Turki, Kasus Fatih, Babanya sebagai wali ditelpon dan diberi arahan untuk isolasi mandiri di rumah, karena saya juga ada rendevu ke dokter gigi hari senin, minta arahan untuk bisa pergi jika hasil negatif. Satgas covid mengizinkan, tapi anak-anak dilarang keluar rumah, Alya juga karena kontak kakaknya dilarang keluar rumah.
Hasil tes covid saya dan suami
Sekitar pukul 8 malam, hasil tes keluar dan dinyatakan negatif dari aplikasi hayat eve sigar, artinya jadwal rendevu saya ke dokter gigi tidak diundur. Sementara Fatih positif dan harus diisolasi. Setelah diberi paracetamol, demamnya turun dan sekarang membaik, tapi masih harus jalani karantina seminggu kedepan, waktu satgas covid telpon minta data Fatih terakhir kali keluar rumah. Ya dengan jujur mengatakan: dia sekolah, sekolahnya dimana, kelas berapa disebutkan babanya, pergi kesekolah dengan mobil antar jemput, terakhir keluar ke park dan itu di lingkungan komplek. Kemudian babanya juga menghubungi wali kelas Fatih, sementara diisolasi, tugas-tugas sekolah tetap diberikan tiap hari.

Apa yang saya lakukan ketika anak kena covid?
Memperkuat imunitas tubuhnya? tentu saja. Sepulang dari saya tes covid, langsung belanja kebutuhan buah dan sayur juga vitamin tambahan, makanan bergizi, asupan gizi anak-anak harus terpenuhi.
Saya disiplinkan pagi harus makan buah dulu sebelum makan yang lain, minum air putih yang banyak, kemudian saya juga memasak sup atau Çorba. Saya membuat Tavuk Çorba dengan bahan persis dengan iskembe Çorba, memasukan bawang putih karena antibiotik alami, lalu lemon, dan lada hitam. Ehm entah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak, ide memasukan lada hitam lebih banyak terinspirasi dari drama cina, dalam dialog drama tersebut mengatakan: lada hitam bagus untuk meredakan flu? Lalu setelah saya googling, beberapa manfaat lada hitam diantaranya:
Meredakan sakit
Menjaga kesehatan saluran pencernaan
Mengontrol kadar gula dalam darah
Menjaga kesehatan otak
Menghambat pertumbuhan sel kanker
Alya juga sempat demam, karena dia pecinta buah, sebelum tidur wajib makan buah, kalau engga, anaknya susah tidur. Pagi juga dia terbiasa makan buah dulu baru sarapan. Sungguh kebiasaan ini membantu sekali. Setelah istirahat, minum paracetamol juga, makan buah buahan. Saya juga minta anak-anak untuk imbang makan salad sayur segar, asupan enzim untuk tubuh mereka.
Fatih saat ini sudah turun demamnya, hanya batuk sedikit, sudah segar kembali, sudah rusuh lagi dengan adiknya, maskernya dilepas. Tetap patuhi protokol kesehatan, kami isolasi mandiri satu minggu, Babanya juga diberi izin isolasi, karena kontak sama anak. Beberapa hari lalu rekan kerjanya juga positif covid 12 orang. Meski sudah vaksin 3x diminta isolasi.
Setelah hari ini sempat keluar berdua untuk pergi ke kota kırıkkale, karena ada jadwal ke dokter gigi, kami pergi berdua saja, anak-anak ditinggal di rumah. Malam sebelumnya saya sudah menyiapkan makanan, seperti membuat borek isi kentang favorit fatih, lalu isi pisang coklat dan keju. Babanya juga sempat beli roti poğaca, tidak lupa selai coklat dan roti tawar juga,saya sengaja taruh di meja dapur, ditambah setandan pisang.
Alhamdulilah anak-anak bisa ditinggal, tidak ada drama nangis, mereka menikmati saja. Cuma diingatkan untuk menjauhi kompor, pisau dan alat elektronik lain, untuk menyalakan tv dan pc , mereka sudah bisa.
Sekarang masih menjalani isolasi sampai Fatih bisa diizinkan keluar dan sekolah lagi. Meski kondisi tubuhnya sudah fit, 2 hari saja dia mengeluh tidak enak badan. Tapi bukan berarti saya jadi santai. Asupan nutrisi anak-anak harus terpenuhi semua, saya tetap mendisiplinkan mereka untuk makan makanan sehat.
Bagaimana anak-anak bisa patuh konsumsi buah dan sayur?
Kebiasaan yang kami ciptakan sendiri semenjak mereka belum lahir, Babanya juga penyuka buah buahan, sedang saya sebagai perempuan berdarah sunda dan pecinta lalapan, tidak sulit untuk adaptasi menghabiskan aneka salad sayuran ala Turki dan tentu saja buah buahan segarnya. Ketika anak-anak lahir dan terbiasa melihat kedua orangtuanya menikmati makanan sehat, bukan perkara sulit mengenalkan mereka.

Alya saya sapih lepas dari ASİ tidak otomatis beralis ke susu UHT dia pilih makan buah, meski saya sediakan stok susu uht, dia selang seling, sampai sekarang jadi rutinitas malamnya sebelum tidur minta buah segar dan bangun pagi minta lagi buah segar. Tapi bukan berati dia jadi ‘sakti’ dari penyakit, mereka juga manusia biasa. Kebiasaan ini jadi membantu sekali proses pemulihan ketika mereka sakit. Seperti saat ini, sebenarnya kondisi mereka sudah terlihat sehat, sudah ceria lagi kok…, tidak mengkhawatirkan insha allah. Doakan kami sehat sehat kembali ya, begitu juga teman-teman. Tapi ini jadi pembelajaran, meski sudah berusaha maksimal agar terhindar dari covid, qodarullah anak kena juga, menjaga imunitas tubuh mereka dan tentu juga saya dan babanya, paling tidak membantu sekali proses pemulihan dengan cepat. Jaga asupan makanan sehat , porsinya harus lebih banyak dari sekadar makanan ‘numpang lewat’ yang hanya dinikmati indera pengecap tapi nyiksa usus. İmunitas kuat mampu melawan virus juga dengan lebih kuat. Hempaskan covid!! Sehat sehat kita semuaaaa.

Untung mamaknya hebat ya, karena kalau ada keluarga kena Covid yang repot pasti mamak….sehat semua
LikeLike
Skrg babanya jg kena pheb😅 lg isolasi kitaa..,msh waras aja isterinya gantian ngurus..✌️cm batuk kgk kelar2 ni
LikeLike