Jumat tanggal 4 februari 2022, kami sekeluarga berangkat lagi ke rumah sakit gigi, sehari sebelumnya, suami ditelpon dokter, agar datang keesokan hari untuk perawatan gigi gusi saya ke-2x di bagian periodontologi. Seperti biasa, kami menyesuaikan jadwal, berangkat pagi pukul 7 setelah subuh. Karena musim dingin, waktu subuh sekitar pukul 6:48 pagi.

Saya bangun lebih awal, langsung ganti baju, kalau urusan mandi, saya lakukan malah hari sebelum tidur, cuaca cukup dingin di luar. Setelah saya berganti baju kemudian masuk kamar anak-anak, membangunkan mereka, malam sebelumnya saya sudah siapkan baju lengkap, tinggal mereka pakai, karena musim dingin, harus memperhatikan detail pakaian yang cocok dipakai ketika keluar rumah. Dan tidak lupa dua roti isi, susu kotak dan air minum. Untuk pengganjal perut dijalan. Tidak lama, babanya terbangun dan langsung siap-siap, kemudian subuhan dulu baru kami turun ke bawah.

Si baba turun terlebih dahulu ke bawah dengan membawa plastik sampah yang akan dibuang, sekalian makanan sisa, sup ayam yang tidak habis, roti roti sisa , tulang ayam, sengaja dipisahkan untuk anjing liar yang selalu menunggu di depan komplek lojman. Pagi hari dimulai dengan bersedekah, dengan makhluk berbulu ciptaan Allah. Karena kami akan melakukan perjalanan cukup menantang pagi itu.

Perjalanan menantang dipagi hari.

Jarak dari komplek lojman sampai jalan utama 2 km, kemudian mobil berbelok ke arah kiri menuju Çankiri, awal perjalanan , jalanan biasa saja, tapi kemudian kami curiga ketika melihat mobil truk pengeruk salju sedang bersiap-siap ”wah apakah salju turun lagi”, kemudian cek dilayar HP, memang akan turun salju hari itu, suhu-1 c, dan tidak kami sangka adalah, dimulai dari mendekati daerah Bayat, kondisi jalanan tertutup salju.

jalanan tertutup salju di pagi hari, demi ke dokter gigi harus dilewati

Cukup deg-deg-an, karena perjalanan selama 2 jam ini melewati lembah dan perbukitan, jarang penduduk, hanya ada dibeberapa titik saja kami akan bertemu desa-desa. Selebihnya serasa melewati gurun, jika terjadi sesuatu dijalan, harus menunggu sedikit lama pertolongan medis, banyak berdoa saja pokoknya, selamat sampai tujuan.

jalanan tanpa salju kira-kira seperti ini

Selama perjalanan, anak-anak langsung melanjutkan tidurnya, di mobil kami siapkan selimut mereka (selimut bayi yang masih saya simpan sebagai kenang-kenangan, masih berguna:) tidak lupa bawa bantal dan mainan. Mereka melewatkan pemandangan pagi yang cukup menegangkan di luar. Hanya kami berdua, tidak lupa membaca doa dan dzikir, memohon keselamatan selama perjalanan. Oh ya saya juga sempat diserang mules pagi hari, biasa jadwal panggilan alam, nyari tempat pemberhentian seperti pom bensin belum ketemu, adanya sungai-sungai kecil, tapi tetap berusaha saya tahan sampai di lokasi tujuan, sempat terpikir kalau mulesnya ga bisa ditahan lagi, maksa suami buat berhenti dipinggir jalan, karena ada sungai kecil, tapi melihat cuaca bersalju dan angin kencang, ciut juga sih.

mobil yang tergelincir

Selama di jalan, saya sempat bilang sama suami:” korkuyorum” tapi kata dia, ”ben de”. Jujur kami berdua ada rasa takut, apalagi ketika mobil didepan kami sempat kecelakaan tunggal hingga bagian belakangnya menyangkut dipembatas jalan, kondisi saat itu, turun salju disertai angin kencang, sehingga menyulitkan jarak pandang pengemudi, berasa jalanan tanpa ujung, semua memutih.

jalanan memutih, salju turun dan angin kencang..kombinasi yang mengerikan

Karena saking paniknya, saya juga ga sempat memotret kondisi terburuk saat itu, angin cukup kencang dari arah kanan disertai salju, meniup butiran salju yang menumpuk dipinggiran jalan, setelah sedikit terlihat jalannya, baru saya foto seperti diatas. Suami sempat ragu melanjutkan perjalanan, wajar sih, kami takut, apalagi bawa anak-anak. Berusaha tetap tenang dalam mengemudi, kami tetap melanjutkan perjalanan.

tertutup badai salju cukup menyulitkan jarak pandang

Hingga akhirnya kami sampai diarah belokan menuju Kırıkkale, memasuki daerah kalecik, salju tidak setebal dari arah kami datang, jalanan sudah bersih dari salju, ketegangan berkurang. Anak-anak baru bangun, kemudian minta roti, tidak lama sudah memasuki kırıkkale, keluar dari arah kalecik langsung ambil ke jalan utama provinsi, Jalan Ankara. Kota kırıkkale adalah kota tetangga dari ibukota Ankara. Mobil langsung mengarah ketujuan utama kami yakni: univeritas kırıkkale yang memiliki rumah sakit kedokteran gigi. Di rumah sakit gigi milik universitas ini, klinik yang saya tuju ada semua. Perjalanan 2 jam dari lojman melewati badai salju berbuah manis, tidak panjang antrian dan dokternya sudah menunggu.

Sebelum menuju lantai dua bagian periodontologi (saya ga ada foto isi dalam rumah sakit sama sekali ya, cari aman saja hehehe) dari bagian resepsionis, langsung menuju toilet di lantai utama, menuntaskan hajat yang tertunda, rasanya lega. Kemudian baru lanjut naik lift ke lantai 2.

Perawatan di periodontologi

Tadinya saya pikir, apa akan dilakukan flap gigi, sempat cerita ke dokter tersebut, kalau dulu saya sempat flap gigi bagian atas depan 5 gigi, sekitar 2004 di salah satu dokter gigi di Jogja, waktu itu saya sempat datang ke klinik gigi RSU sardjito untuk scaling gigi, kemudian bu dokter di RSU Sardjito menyarankan untuk flap gigi di klinik pribadinya, saya bayar 500 ribu saat itu, entah sekarang berapa. Tapi di bagian periodontologi disini (Turki) saya hanya dibersihkan gigi gusi saja, yang sama aja kayak membersihkan karang gigi biasa, cuma rasanya lebih extrim aja, sampai mengeluarkan air mata saking ngilunya hahaha, sebenarnya waktu kontrol ke klinik gigi swasta di Çorum, mau memanfaatkan diskon perawatan gigi dari instansi kerja suami, tapi dokter gigi di klinik tersebut ga berani, beliau yang menyarankan langsung ke periodontologi saja. Ya hingga akhirnya saya harus bolak balik ke kota kırıkkale ini. Di kota Çorum, rumah sakit giginya tidak terlalu besar dan belum lengkap dokter spesialisnya, kabarnya baru akan dibangun lagi yang lebih besar. Sementara ini kalau ke dokter spesialis cari dikota tetangga terdekat.

Setelah selesai dari urusan gigi, dokter yang menangani saya memang seorang dokter gigi yang sedang mengambil spesialis, ada dokter spesialisnya yang mengawasi, untuk bagian periodontologi tidak terlalu besar juga, beda dengan bagian klinik gigi umum di lantai 1. Lantai dua untuk pendidikan spesialis gigi semua.

Keluar dari gedung rumah sakit, suami langsung ngajak ke BİM market diseberang jalan, sekalian belanja. Semenjak tinggal di komplek lojman yang jauh dari pusat kota, kami akan belanja kebutuhan rumah sekalian ketika ada urusan keluar, entah di daerah mana, ujungnya sama aja, jika belanja di market terdekat dari komplek, berjarak 8 km. Mumpung ada BİM terdekat dari rumah sakit, belanja disana. Bagasi jadi penuh plastik belanjaan ketika pulang.

Perjalanan pulang, jalanan sudah mulai bersih dari salju dan es, tapi diarah sebaliknya, terjadi kecelakaan beruntun, sebuah truk besar dan beberapa mobil kecil, petugas sedang berjaga menunggu ambulan dari arah kota Cankiri datang. Mobil truk pembersih jalan bersalju masih saja hilir mudik.

Dalam perjalanan, anak-anak seperti biasa, bercanda,bermain,bertengkar, mereka sibuk berdua, mencari kesibukan sendiri hingga lelah dan ujungnya tertidur. Kami tidak membiasakan memberi mereka hiburan gadget selama perjalanan, biarkan mereka menikmati perjalanan, ga mudah memang, nguji kesabaran tapi ini prinsip yang kami jalani dalam mendidik mereka, akan ada saatnya mereka nanti mengenal smartphone.

Sampai kembali ke lojman pukul 14.30 sore, perjalanan cukup melelahkan dan menegangkan dipagi hari bisa kami lewati. Masih ada 1x janji temu dokter, bagian restorasi gigi (Restoratif diş tedavisi) karena gingivitis ini gigi saya banyak yang renggang, nanti proses restorasi atau pengobatannya seperti apa saya akan tulis di Blog lagi. Ada tiga klinik yang saya tuju: Periodontologi, endodontologi, Restorasif gigi.

Endodontologi proses yang dilakukan: Root canal, salah satu gigi geraham atas. Periodontologi, lebih ke membersihkan karang gigi secara mendalam, sakitnya luar biasa, sampai 2x datang, Dokter gigi umum tidak berani melakukannya dan menyerahkan perawatan gigi saya langsung ke periodontologi, kasusnya emang udah parah. Oh ya yang menarik, dokter di periodontologi menyarankan obat kumur menggunakan : baking soda. Biasanya meresepkan obat kumur khusus , di İndonesia, biasanya minosep.

Dan untuk perawatan gigi di rumah, mengikuti saran teman. Saya beralih ke sikat gigi elektrik, dari dulu mau nyoba belum tergerak, setelah banyak dapat masukan dari teman gelin ini, saya juga akhirnya memutuskan beralih.

Kesehatan gigi emang penting. sebisa mungkin konsisten merawatnya, saya berharap gigi saya tidak ada yang tanggal heheh, ingin bisa tersenyum dengan gigi utuh sampai usia senja. Badai salju saja kita lewati demi ke bisa ke dokter gigi. Berharap si Alya jadi dokter gigi yang berdedikasi:)Harapan aja, siapa tahu dikabulkan dan anaknya juga bercita-cita..Amiiin.