Bulan februari identik sekali dengan suasana penuh cinta, ya meski diklaim, itu bukan budaya kita, budaya kita adalah…? Bicara tentang cinta, ehm saya cuma ingin menanggapi keriuhan jagat sosial media, berawal pagi hari ketika buka timeline twitter, ramai membahas video tiktod artis atau influencer muslimah, kakak dari youtuber terkenal itu.

Katanya itu hanya potongan video saja, cerita keseluruhannya tidak seperti itu, potongan video bisa berakibat fatal, kena hujatan netijen, ya paham sendiri gimana reaksi netijen dengan isu sensitif ini, KDRT.

Mungkin ya.., karena saya juga ga punya akun tiktod dan follow si mbaknya, insha allah dia niatnya baik memberi pencerahan tentang bagaimana kesabaran seorang isteri, tentang bagaimana seorang isteri berusaha menjaga aib rumah tangganya, kekeliruan si mbak ini adalah ketika dia menambahkan ‘cerita’ guna memperkuat ceramahnya, adalah kesalahan yang dianggap fatal, kalau dia mengambil contoh cerita tentang isteri yang menutupi kekurangan suaminya, misal jadi korban phk karena pandemi. Tadinya kerja kantoran di scbd terdampak pandemi, banting stir usaha jualan cilok…🍡🥟🍝.

Supaya si suami tidak malu dihadapan keluarga dan mertua, karena selama ini dianggap mapan, si isteri menutupi kesusahan mereka, supaya keluarga tidak khawatir, toh mereka masih bisa makan, sedang rintis usaha rumahan, isteri sabar, memberi dukungan…, Nah model cerita seperti ini lebih aman dari gunjingan warga net.

Tapi kalau ceritanya, berdasar cerita nyata di jeddah, seorang isteri yang menutup aib suaminya…ehm ini aja saya mikir, si isteri menutup aib suami, artinya ga ada yang tahu selain dia dan suaminya lalu kenapa tersebar? Dengan kalimat: cerita dari negeri A, berdasar kisah nyata🙄jadi siapa yang membocorkannya🤔lah kan jadi mikir…, İni kisah hikmah atau fiktif untuk meromantisasi pelaku yang ringan tangan? Sumber jelasnya dari mana, rujukannya buku apa, dengar dari mana, apa dengar dari obrolan ibu ibu yang ga sengaja bertemu pas di bandara?

Kedepan semoga si mbak ini lebih berhati hati dalam menyampaikan sesuatu, apalagi isu sensitif, jangan meromantisasi kekerasan dalam balutan agama, cari saja contoh yang sudah jelas,periwayatnya jelas bisa dipertanggungjawabkan para perawi hadist sahih, beliau adalah baginda nabi besar muhammad SAW, coba cari referensi, apa ada yang meriwayatkan nabi menampar atau memukul ummul mukminin, isteri isterinya? Gak ada kan.

Tentang bagaimana seorang suami bersikap terhadap isterinya, ada contoh termulia, yang tidak meromantisasi kekerasan, pernah dengar tentang kisah umar bin khattab yang pasrah aja denger isteri ngomel-ngomel, ga juga dia ringan tangan main pukul…,

Bayangkan kalau didengar para penyintas kdrt yang terdoktrin, isteri nurut,penyabar ganjarannya surga? Tapi jadi sasak tinju dulu, nanti suami sadar, minta maaf dikasih bunga,emas. Seakan semudah itu dilupakan, lalu apa bisa jadi jaminan kedepan perilakunya tidak berubah, kalau dihadapi kondisi berulang.

Bahasa cinta level pedas

Oh ya saya juga mungkin ‘produk’ dari kdrt verbal, tapi ya kita ga menganggapnya itu sebenarnya, bapak saya galak, tukang ngomel, rasanya kalau ga ngomel bukan bapak, saking sering ngomel ya cuma kita anggap angin lewat, kalau udah capek ngomel, diem, baik lagi. Ada dampaknya? İya ke saya, terkadang kurang percaya diri, suka ga yakin sama kemampuan sendiri.

Dampak terbesar ke pasangan hidupnya, ibu kena sakit darah tinggi, bel palsy juga pernah, saking banyak nahan emosi, ga ngelawan. Berefek kekesehatannya, setelah itu bapak saya tobat😅 berkurang porsi ngomel ngomel ga jelas, apalagi lihat ibu yang kesehatannya menurun, takut juga ditinggalin, usia semakin tua, kadar ngomelnya berkurang, apalagi pernah ditegur Allah, ketika kehilangan cucu pertama mendadak, shock. Jadi titik balik beliau untuk memperbaiki diri.

Galak tapi royal, galak tapi demokratis, entah kombinasi yang unik emang, segalak galaknya beliau ga pernah ngekang anak, ga pelit. Misal ada rezeki 1 juta, 900 ribu dikasih ke anak isteri, beliau bisa cuma pegang 100. Kalau ibu ga beliin bapak baju lebaran, ya bisa ga beli😂orang duit selalu 90 persen dikasih semua. Begitulah bahasa cinta ala bon cabeh level 30. Asal tahan kena omelan yang kadang ga jelas sebabnya. Tapiiiiii…..

Ada kalimat dari bapak yang saya ingat jelas: beliau ga ridho jika kedua anak perempuannya tidak diperlakukan dengan baik, apalagi jika sampai ada kekerasan fisik! Didukung anaknya untuk berpisah.karena kata beliau, segalak galak mulutnya, pantang buat beliau mukul anaknya. Ya amit amit sih, dalam ingatan saya belum pernah juga kena pukul bapak.

Jadi saya pun tipe yg tidak meromantisasi kekerasan, kalau mulut nyap-nyap..ngomel, ya suami juga sebagai manusia biasa bukan malaikat, pernah! Bertengkar hebat?pernah juga, karena saking emosi dia pilih menyendiri,jalan ke çarsi, pulangnya nenteng belanjaan, begitulah solusi meredakan amarahnya😌selama ga ringan tangan, cuma jadi ringan dompet aja😅

Sejatinya kalau pasangan tulus mencintai, dia akan berpikir 10000 kali untuk menyakiti pasangannya. Baik pria maupun wanita, kekerasan fisik tidak dibenarkan dalam ajaran agama, dalam hukum negara, sekali lagi,jangan meromantisasi kekerasan dalam baju agama.