Desa atau biasa disebut köy, umumnya desa-desa di Turki tidak terlalu besar, contoh kecil saja adalah desa dimana kedua mertua saya tinggal sampai saat ini, desanya cukup kecil, penduduk desa hanya puluhan orang saja, didominasi usia paruh baya, anak-anak muda biasanya merantau ke kota-kota besar, sedang anak gadis ikut dengan suaminya tinggal, jika menikah dengan orang diluar desa mereka.
Cukup sepi. Di desa mertua tidak ada warung sama sekali. Segala kebutuhan pokok didapatkan di pusat kota, karena wilayah desa masih masuk area merkez (pusat kota) bukan ilçe (semacam kabupaten atau kecamatan) ini hanya menggambarkan satu suasana desa saja di Turki, bisa saja tiap bölge (wilayah)berbeda beda suasana pedesaannya, sebuah gambaran umum tentang rumah orang desa saja:

Pemasangan pemanas air di atap jadi pemandangan umum di desa, karena kebutuhan air panas untuk mandi atau mencuci peralatan dapur, apalagi ketika musim dingin, kebutuhan air panas untuk sehari hari meningkat, baik untuk wudhu atau mandi.

Bangunan ini bukan rumah utama melainkan gudang yang dibangun baba mertua, terdiri dari dua ruangan, ruangan pintu biasa dan berjendala untuk menyimpan hasil panen buah dan sayuran, sebagian diawetkan menjadi tursu (acar) atau tomat yang diolah menjadi salca, anggur yang diolah menjadi pekmez (mollases) sedang dipintu utama berwarna biru, tempat untuk traktor dan menyimpan hasil panen biji gandum, menyimpan perkakas dan juga ada perapian untuk membuat roti lavas.

Untuk kebutuhan lemari pendingin, ada 3, 1 ukuran besar untuk menyimpan bahan makanan sehari hari, dan 2 lagi jenis freezer besar dan kecil, fungsinya untuk menyimpan segala makanan beku, daging, sayur, dan untuk menyimpan stok mentega, keju buatan rumahan, ibu mertua pandai membuat mentega dan keju sendiri, apalagi hidup di negara 4 musim, memiliki stok makanan selama musim dingin ketika aktivitas bertani terhenti menjadi kebutuhan penting.

Mesin ini cara kerjanya menurut saya mirip mesin cuci, biasanya susu digiling dimesin ini dilanjutkan proses dimasak, lalu digiling lagi kemudian diperas, Hari Rabu menjadi hari dimana mesin ini digunakan oleh beliau, mesin akan terus menyala seharian. Beliau biasa membuat mentega :unsalted butter ,salted butter dan çökolek–jenis keju khas pedesaan– Beliau juga menjual keju dan menteganya, ada pelanggan khusus yang selalu memesan,tentu saja alasan utamanya:organik.

Kebanyakan rumah dipedesaan masih menggunakan soba sebagai penghangat ruangan, belum beralih ke penghangat ruangan gas alam, seperti di daerah perkotaan. Secara ekonomi, menggunakan soba jauh lebih hemat karena kayu bakar, terkadang juga menggunakan kotoran sapi yang dikeringkan loh, ini saya baru tahu ketika pertama tinggal bersama mertua, kotoran dipadatkan dan bisa menjadi bahan bakar soba. Bentuk soba juga macam macam, tapi biasanya selalu ada oven juga, kemudian diatasnya biasa untuk memanaskan air, musim dingin didepan soba sambil menanti kentang panggang atau kestane panggang sungguh nikmat.

Rumah penduduk desa, umumnya memiliki dua ruang tamu, seperti ini, ruang tamu utama, terkadang jika tamunya cukup banyak dipisah dua ruangan, untuk perempuan dan laki-laki dipisah

Misal tamu perempuan di ruang utama dan tamu pria akan ditempatkan di ruang keluarga. Ruang keluarga lebih sering digunakan terutama ketika musim dingin, karena hanya diruangan ini soba dipasang, berbeda dengan penghangat ruangan modern yang menggunakan tenaga gas, bisa dipasang disemua ruangan, soba umumnya hanya dipasang disatu ruangan saja, jadi ketika musim dingin, hanya satu ruangan yang hangat, semua berkumpul disana termasuk tidur, jenis sofa yang digunakan dua dudukan, bisa diseting jadi tempat untuk tidur.

Berbeda dengan penduduk di perkotaan yang memiliki lahan terbatas, orang desa biasanya pekarangan rumah lebih luas, biasanya kebun ini untuk menanam sayur seperti selada ,daun bawang, bawang bombay, ada pohon ceri, apel, aprikot, anggur, blackberry dan walnut. Biasanya jika sedang berkunjung ke rumah mertua dan kita makan bersama, untuk membuat salad, saya langsung memetik bahan bahannya di kebun ini.

Petani di Turki terbiasa menggunakan traktor sebagai alat transportasi, ketika mereka harus pergi ke pusat kota, mereka biasa menggunakan traktor seperti ini, misalkan hari pasar , petani yang ingin menjual hasil panen kebunnya akan membawanya dengan traktor ditambah bak dibelakang traktor, ditarik atau cukup seperti gambar diatas, ditambah kotak kayu biasanya dibuat sendiri untuk menaruh hasil kebun, sementara sang istri akan duduk disamping suaminya, tepatnya diatas penutup roda traktor, menambahkan bantalan kecil supaya nyaman, traktor umumnya hanya satu penumpang. Baba mertua juga sering menggunakan traktornya seperti ini untuk belanja ke kota, mengemudikan traktor masuk area kota harus bawa sim juga loh, tidak asal nyetir, mereka memiliki sim khusus untuk traktor. Kalau tidak? sebagaimana pengemudi kendaraan lainnya kalau ada cegatan polisi lalu lintas ya ditilang juga. Karena traktor jenis kendaraan berat, asal sembarang orang mengemudikannya bisa bahaya juga, apalagi menggunakan jalan utama.

Bahas tentang traktor untuk menggarap lahan, traktor alat modern, dulunya para petani di Turki juga menggunakan bantuan hewan ternak terutama sapi untuk menggarap lahan gandum. Di rumah mertua, masih disimpan alat seperti foto diatas, roda dari kayu, saya tidak paham cara kerjanya seperti apa, ditarik sapi atau manual tangan. Alat ini peninggalan kakek dari suami sebelum beralih menggunakan traktor.
Sistem pemerintahan di desa seperti apa?
Desa dipimpin oleh seseorang yang menjabat sebagai: Muhtar (kepala desa) biasanya muhtar dipilih lewat pemilu lokal desa, sama seperti di İndonesia, tapi untuk desa mertua, karena penduduknya sedikit, jabatan muhtar malah ditawari ke orang yang minat mengemban amanah , Muhtar ini digaji juga oleh pemerintah.
Masjid di desa umumnya dikelola oleh seorang imam masjid yang menjadi pns, disamping masjid disediakan rumah dinas untuk imam, keseharian imam masjid mengelola masjid didesa, membuat berbagai program keagamaan, seperti kursus baca alquran atau mengadakan pengajian, solat jenazah dll, memimpin jamaah solat, tentu saja. Diluar itu biasanya imam masjid juga menggarap kebun, dia bisa menggunakan lahan yang disediakan didekat rumah dinasnya. Uniknya jika hari jumat, speaker dimasjid akan dinyalakan satu jam sebelum waktu solat, biasanya tersambung dengan Ulu cami-masjid besar di pusat kota, jadi ceramah seorang hoca di ulu cami disiarkan juga lewat speaker masjid di desa, sekarang zaman digital ya, terkadang azan juga langsung dari ulu camie. Nah untuk muazin di Turki, tidak sembarang orang bisa azan di masjid, seperti anak-anak yang dibebaskan memegang mic lalu azan dengan suara cempreng, selalu ada muazin sendiri yang bersuara merdu dan fasih. Jarang bukan mendengar suara azan tidak merdu di masjid masjid Turki.
Sulit kah hidup di desa
Saya akan mengatakan semua tergantung seperti apa keluarga Turki yang kita temui, terutama untuk menantu asing yang diajak tinggal di desa. Untuk saya pribadi? biasa aja, waktu tinggal di desa, (8 bulan) suami memasang wifi, jadi saya bebas berinternetan kapan saja, tidak diperkenankan membantu mertua di ladang, tugas saya hanya seputar membersihkan rumah,dengan cara menggunakan vacuum cleaner, lalu mencuci piring, masak juga kadang ibu mertua, saya meng asisteni saja, lalu cuci baju biasanya suami, saya menjemur dan melipat atau setrika, sisanya main heheh, loh kok enak? ya alhamdulilah, ibu mertua sendiri yang mengatakan, saya itu menantu asing, untung aja masih mau dikawinin anaknya LOL…, anak gadis orang dari negara seberang masa saya perlakukan jadi pembantu...(yes im a queen!:V) beliau ga pernah banyak komplen dengan kelakuan saya, tapi tahu diri aja lah, masa ya rebahan doang. Jadi meski hidup di desa, tugas saya ringan-ringan aja. Pernah bantu beliau cuci karpet di halaman, itu juga dibantu keponakan, lalu tiba-tiba ada mobil es krim keliling lewat desa, distop sama ibu mertua, dipesankan es krim sekotak besar sebagai upah main air:)
Dulu dengar cerita teman yang hidup di desa bareng mertuanya, benar-benar ‘dipekerjakan’ alhamdulilah tidak mengalami fase kerja rodi seperti itu, malah saya yang memperkerjakan keponakan keponakan suami, jika mereka datang berkunjung, ya mereka yang mengambil alih urusan dapur, ada untungnya menikah dengan si bungsu dimana jarak umur cukup jauh dengan kakak kakaknya dan usia keponakan yang hampir sepantaran, bukan balita. Jadi sebagai tantenya kasta saya lebih tinggi..bisa nyuruh nyuruh:P
Alasan sekarang tidak berminat tinggal di desa lagi? ya tentu saja karena kita hidup mandiri dengan rumah sendiri dan anak-anak sekolah, karena di desa ini tidak ada sekolah sama sekali, semuanya di pusat kota. Sebaik-baiknya mertua hidup terpisah masih jauh lebih baik:) bukan begitu?
